SEKOLAH TINGGI ILMU ADMINISTRASI (STIA) AMUNTAI

BEBERAPA PETUNJUK PRAKTIS PENGEMBANGAN DIRI ALUMNI DAN MAHASISWA STIA AMUNTAI


a. Membiasakan diri untuk selalu berpikir dengan mempergunakan langkah-langkah metode ilmiah.

Berpikir dengan mempergunakan langkah-langkah metode ilmiah adalah metode berpikir dengan mengikuti langkah-langkah yang menggabungkan antara cara berpikir deduktif dan cara berpikir induktif. Cara berpikir deduktif adalah cara berpikir yang  berupaya untuk  mencari penjelasan rasional terhadap suatu objek masalah sedangkan cara  berpikir induktif adalah cara berpikir yang berupaya untuk mencari penjelasan suatu masalah dengan fakta-fakta emperis. Penggabungan kedua pendekatan cara berpikir tersebut melahirkan pemahaman masalah secara rasional, konsisten dan berkorespondensi dengan ilmu pengetahuan terdahulu, yaitu suatu pemahaman yang logis,  diterima akal sehat serta ada bukti-bukti emperis yang mendukungnya.  Misalnya ada pernyataan salju berwarna putih, dengan penjelasan logis memungkinkan diterima akal sehat karena salju terdiri atas air yang berwarna putih, namun pemahaman yang diterima belum sempurna jika belum ada bukti emperis yang menunjukan bahwa salju memang berwarna putih, sampai disini pernyataan salju berwarna putih hanya bersifat hipotesa yang kebenarannya hanya bersifat sementara, sebelum  secara nyata kita melihat ada salju yang berwarna putih.

Mekanisme proses berpikir seperti ini, dikenal juga sebagai proses “logico-hypothetico-verifikasi” atau secara sederhana sering dinyatakan dengan pernyataan “jelaskan secara logis dan masuk akal kepada ku,  kemudian tunjukan bukti-buktinya”

Pemanfaatan langkah-langkah metode ilmiah untuk memecahkan masalah-masalah sosial secara sederhana di mulai dari ; (a) pernyataan adanya suatu masalah yang harus di pecahkan,  yang kemudian dilanjutkan dengan (b) mencari penjelasan logis melalui teori-teori sosial yang ada, hingga dapat di munculkan, (c) hipotesa atau jawaban sementara terhadap masalah yang di hadapi, mencari bukti-bukti emperis, melalui pengamatan, bertanya, wawancara mendalam, penyebaran angket, dll,  terakhir (d) pengambilan kesimpulan dan mencari alternatif pemecahan masalah. Misalnya jika muncul masalah rendahnya tingkat disiplin, upaya penjelasan logis melalui teori sosial-sosial, dapat ditelusuri misalnya karena menurunnya motivasi, kurangnya pengawasan,  atau faktor-faktor lain yang dapat ditelusuri dari banyak teori sosial yang memberikan penjelasan penyebab rendahnya tingkat disiplin karyawan, semua penjelasan tersebut, semuanya hanyalah hipotesa atau jawaban sementara terhadap rendahnya tingkat disiplin. Langkah selanjutnya adalah mencari pembuktian emperis, hipotesa mana yang paling mendekati kebenaran emperis, melalui pengamatan atau wawancara mendalam dengan para karyawan, akhirnya dapat disimpulkan bahwa penyebab rendahnya tingkat disiplin karyawan adalah karena kurangnya pengawasan maka sebagai pemecahan masalahnya perlu dikembangkan cara-cara peningkatan pengawasan.

Dalam kehidupan nyata, tentu saja permasalahan-permasalahan yang dihadapi tidak sesederhana hal tersebut dan kadang-kadang memerlukan pemecahan saat itu juga, secara instan namun  proses dan langkah-langkah seperti itu perlu di biasakan agar proses pemecahan masalah dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah sebagai seseorang yang menyandang gelar akademis, karena bukankah proses berpikir dengan menggunakan metode ilmiah ini telah dilatih ketika para mahasiswa melaksanakan bimbingan dan melakukan penelitian sosial, sebagai syarat menyandang gelar sarjana sosial, hanya saja karena demikian ketatnya metode yang dipergunakan dan proses bimbingan serta ujian sidang yang  cukup melelahkan bagi mahasiswa, maka langkah-langkah metode ilmiah ini terkesan “angker” dan sulit dilakukan, padahal secara tidak sadar kita sering juga mengunakan langkah-langkah ini dalam kehidupan sehari-hari.

b. Membuka akses informasi seluas-luasnya dan melakukan verifikasi data secara akurat

Selain membiasakan diri untuk berpikir dengan mempergunakan langkah-langkah metode ilmiah hal lain yang perlu dibiasakan bagi para alumni dan mahasiswa STIA-Amuntai adalah membuka akses informasi seluas-luasnya, baik melalui buku bacaan,  selalu bertanya dan melakukan pengamatan emperis terhadap lingkungan sekitar, cobalah kita merenung sejenak, perhatikan lingkungan kita, betapa banyaknya yang dapat kita pelajari.

Semakin banyak informasi yang terkumpul akan semakin mudah memecahkan masalah-masalah yang di hadapi karena pada umumnya permasalahan sosial bersifat ajeg atau berulang dengan sedikit variasi sehingga dengan banyaknya bacaan, banyaknya bertanya pada orang lain dan banyaknya melakukan pengamatan maka informasi akan terkumpul semakin banyak. Informasi dapat diibaratkan sebagai artifak-artifak yang berserakan,  tugas kita adalah memungutinya dan kemudian menyusunnya menjadi hipotesis atau menjadi bukti-bukti  emperis untuk memecahkan masalah-masaalah sosial.

Untuk memperluas akses informasi, The Liang Gie (1991:100), pernah mengajurkan pembentukan struktur jaringan laba-laba (spiderweb structure), yang di rajut setiap hari melalui saluran pribadi dan medan komunikasi yang semakin hari semakin besar sehingga semakin banyak informasi yang akan terjaring. Ringkasnya menurut petunjuk ini, siapa saja yang ingin sukses dan berhasil memperoleh informasi sebanyak-banyak maka dia   harus secara terus-menerus memperluas lingkungan pergaulan sosialnya dan mencari teman sebanyak-banyaknya.

Selain mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya, hal terpenting dilakukan adalah untuk melakukan upaya “penyaringan” terhadap informasi yang diperoleh dengan cara melakukan verifikasi dan menilai keabsahan data dan informasi yang didapatkan, karena tidak semua data dan informasi yang terjaring merupakan data dan informasi yang  baik dan benar. Ibarat jaringan laba-laba tadi, tidak semua serangga yang terjaring dapat di makan oleh laba-laba, karena mungkin saja serangga yang terjaring adalah serangga yang beracun dan mematikan.

Untuk meningkatkan keabsahan dan validitas data dan informasi, banyak metode yang dapat dilakukan, misalnya dengan melakukan cek dan recek data/informasi,   trianggulasi dan pemeriksaan originalitas dokumen. Data dan informasi yang diperoleh perlu di cek ulang dan dikomfrontasikan dengan orang yang berbeda, serta dengan menggunakan metode dan cara yang berbeda pula serta perlu juga diperiksa kembali originalitas suatu dokumen.

c. Pengembangan kemampuan berpikir kreatif

Kemampuan berpikir kreatif sangat diperlukan untuk mengembangkan alternatif-alternatif pemecahan masalah-masalah sosial yang dihadapi serta agar kita tidak selalu terpaku pada satu alternatif pilihan saja, misalnya masalah A harus di pecahkan dengan metode B, maka dengan berpikir kreatif, mungkin saja ada alternatif metode B-1, B-2, B-3, atau bahkan alternatif metode gabungan antara B-1 dan B-2 dan seterusnya.

The Liang Gie (1991:54), memberikan beberapa petunjuk umum untuk dapat meningkatkan kreatifitas berpikir seseorang, yaitu ;

  1. Mengubah hal-hal yang telah terbiasa sehari-hari dengan hal-hal yang baru, misalnya bilamana selama ini berangkat ke kantor biasa dengan melalui jalan A, ubahlah melalui jalan B, kemudian jalan C atau yang terbiasa naik mobil, ubahlah dengan naik sepeda atau jalan kaki. Situasi-situasi  baru dapat mendatangkan pandangan  dan cara berpikir yang baru.
  2. Milikilah kebiasaan untuk menyimpulkan klasifikasi-klasifikasi yang tidak lazim, misalnya mengelompok tipe-tipe orang, dan lainnya. Semua ini merupakan penambahan bahan pemikiran berupa konsep-konsep yang mungkin dapat digabung hingga memunculkan gagasan baru.
  3. Berusahalah selalu menterjemahkan sesuatu yang abstrak  dan umum menjadi sesuatu yang kongret dan khusus, misalnya watak orang yang optimis diterjemahkan dan dialihkan pada ciri-ciri orang yang berwajah riang dengan mulut tersenyum.
  4. Untuk meningkatkan kreatifitas seseorang perlu mencari pengalaman yang banyak dari lingkungan sekeliling dan dengan melalui segenap indera yang dimiliki.
  5. Berusahalah menyediakan waktu dan perhatian untuk membaca bidang pengetahuan lain di luar keahlian dan pekerjaan kita. Upaya ini dapat memperluas sudut tinjauan dan memberi konsep-konsep baru bagi pemikiran.
  6. Menghimpun informasi, catatan, dan gagasan pihak lain yang original dan kemudian sewaktu-waktu membalik-baliknya untuk merangsang ide diri sendiri.
  7. Melengkapi diri dengan buku catatan pribadi untuk menulis seketika jika muncul gagasan dalam pikiran karena gagasan datangnya sering tiba-tiba dan akan sia-sia jika kembali lenyap, tanpa di catat dan jikapun diingat dengan hanya mengunakan kemampuan ingatan maka gagasan tersebut hanya akan membebani pikiran hingga akan menghalangi gagasan baru yang akan muncul.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s