SEKOLAH TINGGI ILMU ADMINISTRASI (STIA) AMUNTAI

Beberapa Prinsip Umum Tentang Teori Sosial dan Fenomena sosial


Menurut Kerlinger (1973) teori adalah ;

Sekumpulan konsep, definisi, dan proposisi yang saling kait mengkait yang menghadirkan suatu tinjauan secara sistematis atas fenomena yang ada dengan menunjuk secara spesifik hubungan-hubungan antara vareabel-vareabel yang terkait dalam fenomena, dengan tujuan memberikan eksplanasi dan prediksi atas fenomena tersebut.

Sedangkan Gibbs (1972) mendefinisikan teori sebagai suatu kumpulan statemen yang mempunyai kaitan logis, merupakan cermin dari kenyataan yang ada tentang sifat-sifat atau ciri-ciri suatu klas, peristiwa atau suatu benda.

Dari kedua pendapat tersebut kiranya kita sudah dapat menarik kesimpulan secara tegas bahwa antara teori dengan fenomena sosial memiliki kaitan yang erat dan bahkan dapat dikatakan hubungan antara teori dengan fenomena sosial ibarat “benda dengan bayangannya” karena teori merupakan pencerminan suatu fenomena dan kemudian digunakan kembali untuk menjelaskan suatu fenomena yang sejenis, dalam arti vareabel-vareabel yang berinteraksi serta situasi dan kondisi yang melingkupinya hampir sama.  Teori sosial juga dikembangkan agar supaya kita dapat mengetahui gejala-gejala sosial yang sedang kita hadapi, misalnya kita tidak akan tahu adanya inflasi dan tindakan apa yang dapat dilakukan jika tidak ada teori tentang inflasi.

Lebih jauh lagi kegunaan teori sosial, sebagai mana dikemukakan  oleh Freese (1986),  selain dapat digunakan untuk sistematika pengetahuan dan pengembangan hypotesis penelitian, juga digunakan untuk menjelaskan (eksplanasi), memprediksi dan melakukan kontrol, dalam arti mengendalikan, menguasai dan mempengaruhi fenomena sosial. Sebagai contoh adalah teori transisi demografi, yang menyatakan bahwa ;

Perkembangan suatu masyarakat dapat dibagi ke dalam tiga tahap, yaitu tahap masyarakat tradisional, transisi dan modern. Pada masyarakat tradisional angka pertumbuhan penduduk rendah karena angka kelahiran tinggi tetapi angka kematian juga tinggi, demikian juga pada masyarakat modern angka pertumbuhan penduduk rendah karena masyarakat modern sibuk bekerja diluar rumah dengan biaya pendidikan yang semakin mahal  sedangkan pada masyarakat transisi angka pertumbuhan penduduknya tinggi karena angka kelahiran tinggi dan angka kematian rendah. (Zamroni : 1992:17)

Dengan berbekal teori tersebut maka dapat di jelaskan (eksplanasi) mengapa di suatu daerah X angka pertumbuhan penduduknya tinggi dan juga dapat di prediksi (diramalkan) bahwa suatu saat nanti ketika telah mencapai masyarakat modern di daerah X tersebut angka pertumbuhan penduduknya akan kembali rendah. Kemudian dalam kaitannya dengan fungsi kontrol sosial maka dengan berpedoman pada teori transisi demografi tersebut,  maka kebijakan pemerintah yang dapat ditempuh untuk menekan pertumbuhan penduduk di daerah X adalah dengan langkah-langkah untuk mempercepat proses modernisasi, sehingga pertumbuhan penduduk di daerah X dapat  dikendalikan.

Berangkat dari beberapa ilustrasi tersebut, rupanya dalam kehidupan sehari-hari, kita telah banyak berteori, baik dilakukan secara sadar atau tidak sadar, sengaja maupun tidak sengaja teori telah melekat dalam kehidupan sehari-hari kita, namun tentu saja permasalahan dan fenomena sosial yang kita hadapi sehari-hari, tidak semudah dan sesederhana ilustrasi tersebut dan bahkan kadang-kadang untuk menyadari adanya suatu masalah saja, jarang diantara kita yang mampu melihatnya apalagi untuk memecahkannya karena berbagai  fenomena sosial yang kita hadapi, memiliki beberapa sifat yang khas,  diantaranya ;

a.  Fenomena sosial tidak berada dalam isolasi tetapi selalu berhubungan dan kait-mengkait dengan berbagai faktor dan permasalahan lain yang saling memberi pengaruh. Misalnya rendahnya tingkat pendidikan masyarakat dapat berkaitan dengan masalah sosial, ekonomi, budaya dan psikologis suatu masyarakat.

b.  Fenomena sosial bersifat abstrak, sehingga membutuhkan ketajaman dan kejelian pengamat dalam mengamati dan mengambil kesimpulan untuk mencari titik permasalahan yang muncul. Misalnya terjadinya demontrasi ke gedung DPR oleh mahasiswa, apakah hal tersebut murni aspirasi mahasiswa atau ada kepentingan-kepentingan lain.

c. Dalam menghadapi realitas dan permasalahan sosial tidak jarang kita sulit untuk memisahkan diri dari kondisi psikologis dan norma-norma sosial yang berlaku, misalnya  ketika anak kita ikut tawuran, ada kecenderungan kita akan mencari teori-teori yang mendukung penyebab tawuran adalah kesalahan kondisi lingkungan dan sistem pendidikan dan jarang mengakui penyebabnya adalah akibat kurangnya pembinaan dari orang tua.

Selain dari sifat fenomena sosial yang saling berkaitan dengan berbagai faktor serta berkaitan dengan kondisi psikologis serta norma-norma sosial, kesulitan kita dalam menghubungkan antara realitas atau permasalahan sosial dengan teori sosial adalah disebabkan oleh beberapa sifat teori-teori sosial itu sendiri, diantaranya, adalah ;

  1. Teori sosial merupakan pencerminan dari fenomena sosial, namun tidak pernah atau jarang sekali teori sosial cocok 100 % dengan kenyataan sosial karena teori sosial di munculkan melalui proses dan prosedur metode ilmiah yang ketat sehingga cukup memakan waktu lama, sedangkan fenomena sosial bersifat dinamis, selalu bergerak dan berubah sebagai hasil interaksi faktor-faktor sosial yang mempengaruhinya, sehingga mau tidak mau teori sosial selalu tertinggal beberapa langkah dari fenomena sosial karena itu teori sosial tidak pernah secara tepat dalam menjelaskan suatu fenomena sosial, kecuali harus melalui proses penyempurnaan, reformulasi, redefinisi atau pengubahan fokus/orientasi teori. Hage (1976) menjelaskan tentang adanya jarak antara teori sosial dengan fenomena sosial
  2. Keberlakuan suatu teori sosial sering di batasi oleh ruang, waktu dan kondisi sosial tertentu karena sifat kehidupan sosial masyarakat yang sangat dinamis maka suatu teori sosial tidak dapat berlaku di sembarang tempat atau waktu tertentu, misalnya teori partisipasi masyarakat yang berlaku di negara-negara barat tidak tepat di terapkan secara tepat di Indonesia karena sifat partisipasi masyarakat yang terbentuk di Indonesia, terutama selama orde baru lebih dekat pada konsep dan teori mobilisasi masyarakat bukan pada konsep dan teori partisipasi.
  3. Teori Sosial mempunyai tingkatan yang berlapis-lapis, mulai dari yang tertinggi atau biasa disebut sebagai teori agung (grand theories) yang bersifat sangat abstrak dan sangat bersifat universal, seperti teori psikologi humanistik dari Carl Rogers, katagori menengah adalah teori menengah (middle-range theories) serta teori terapan (operasional theories) yang sifatnya lebih sederhana dan mudah di aplikasikan, namun keberlakuannya sangat terkait dengan ruang dan waktu.
  4. Pada beberapa disiplin ilmu yang masih muda, seperti ilmu administrasi negara, teori-teori yang dipergunakan merupakan “teori pinjaman” dari berbagai disiplin ilmu lain, seperti teori birokrasi, teori manajemen ilmiah, teori human relations yang di ambil dari disiplin ilmu sosiologi, psikologi, politik, dan lain-lain yang kebetulan dapat dan cocok untuk menjelaskan, meramalkan dan mengkontrol fenomena administrasi negara, seperti yang dikemukan oleh Caiden (1971) “tidak ada teori administrasi negara, tetapi banyak teori di dalam administrasi negara”.

Dari pemahaman terhadap sifat realitas dan teori sosial tersebut, kita dapat memahami bahwa untuk memanfaatkan teori-teori sosial untuk memecahkan masalah-masalah sosial adalah karena sifat fenomena sosial yang dinamis serta unik, dalam arti keberlakuannya sangat tergantung situasi dan kondisi yang dihadapi serta sifat dari teori sosial itu sendiri yang bagaimanapun perlu melalui proses penilaian situasi dan kondisi yang dihadapi, mencari rujukan teoritisnya serta melakukan “modifikasi” teori melalui berbagai upaya penyempurnaan, reformulasi, redefinisi atau pengubahan fokus/orientasi teori sehingga relevan dengan kondisi sosial dan permasalahan yang kita hadapi

6 responses

  1. Siti Raudah

    Membca dari artikel ini, saya jadi tau tentang apa itu teori sosial dan fenomena sosial,,,,
    sebelumnya saya menganggap kalau teori sosial tsb hny sbgai teori sja dan tdk pnting dikaitkn dgn fenomena sosial,,thanks..

    23 September 2010 pukul 2:19 am

    • Sebenarnya artikel ini kubuat dan disampaikan di hadapan mahasiswa dan civita akademika STIA Amuntai ketika menyampaikan orasi ilmiah dalam rangka wisuda pertama STIA tahun 2005

      23 September 2010 pukul 5:11 am

  2. indri sunarso

    paparan tentang teori cukup lengkap mas, namun masih sangat jarang orang mempercakapkan ttg teori dan prinsip2 IPS secara lebih spesifik, Ips dlm arti universal, kami tunggu karya berikutnya, salam

    29 Maret 2011 pukul 3:50 pm

  3. @Indri sunarso; saya sangat berterima kasih atas kunjungan dan komentarnya, jika ada sharing atau masukan maka saya secara pribadi sangat berterima kasih krn keterbatasan kita semua sehingga kita hrs sering2 saling berbagi, trim’s

    4 April 2011 pukul 10:43 pm

  4. john imanuel

    mas aku pengen merekomendasikan mas buat artikel fenomenal kontroversi PSK. itu sangat penomenal juga mas dan kontroversi.
    trimakasih mas artikel mas sangat mmbantu saya dalam mnambah wawasan saya.
    salam !!

    21 Januari 2014 pukul 11:00 pm

  5. siti maisaroh abdullah

    Saya sangat suka baca artikel ini. Perkara ini memberi saya penerangan tentang teori sosial dan fenomena sosial. Thanks.

    14 November 2015 pukul 1:45 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s