SEKOLAH TINGGI ILMU ADMINISTRASI (STIA) AMUNTAI

Pertumbuhan dan Perkembangan Paradigmatik Ilmu Pengetahuan Sosial


1. Perjalanan mencapai status sebagai disiplin Ilmu Pengetahuan

Hampir seluruh ilmu pengetahuan yang berkembang kemudian dan mulai melepaskan dirinya dari induknya pernah diragukan keberadaannya sebagai cabang ilmu pengetahuan baru, sehingga pertanyaan yang paling sering sekaligus paling fundamental dipertanyakan pada setiap cabang pengetahuan yang baru melepaskan diri dari induknya tersebut adalah, apakah ilmu yang baru lahir tersebut memenuhi syarat sebagai Ilmu Pengetahuan ?.

Umumnya dan terutama para ahli ilmu eksakta, sepakat bahwa ilmu adalah pengetahuan disusun dan diatur sekitar hukum-hukum umum yang telah dibuktikan kebenarannya secara emperis, artinya, dengan kata lain, sesuatu dinyatakan menjadi ilmu pengetahuan apabila di dalamnya telah tersusun hukum-hukum/teori-teori /kaidah-kaidah yang berdasarkan pada pengamatan emperis telah terbukti kebenarannya. Misalnya di dalam ilmu fisika terdapat banyak hukum/teori dan salah satunya menyatakan bahwa Air akan mendidih jika mencapai suhu 100 C. Hukum/teori tersebut dinyatakan benar karena pada kenyataan emperis air memang mendidih jika mencapai suhu 100 C.

Jika pemahaman ilmu dalam ilmu eksakta tersebut dipakai sebagai patokan, maka hampir seluruh ilmu sosial belum memenuhi syarat sebagai ilmu, karena hingga sekarang ilmu-ilmu sosial belum menemukan hukum-hukum ilmiah yang benar-benar dapat dibuktikan kebenarannya secara emperis, karena objek yang diteliti adalah manusia yang memiliki keunikan tersendiri, dimana sebagai objek amatan perilaku dan tindakannya tidak dapat diramalkan dan bahkan setiap tindakan dan perilakunya sering cenderung iirasional serta  tidak logis.

Karena itu dalam ilmu sosial definisi yang diajukan cenderung bersifat umum, seperti yang dikutip oleh Miriam Budiardjo pada pertemuan sarjana-sarjana politik di Paris tahun 1948, yang menyatakan bahwa ilmu pengetahuan adalah :

The sum of coordinated knowledge relative to a determined subject (Ilmu pengetahuan adalah keseluruhan dari pengetahuan yang terkoordinasi mengenai pokok pemikiran tertentu –  Miriam Budiardjo: 4: 1998).

Dengan definisi ini, maka jelaslah banyak ilmu pengetahuan sosial yang diakui keberadaanya sebagai ilmu pengetahuan  yang mapan, karena mempersyaratkan ketentuan yang sangat luas yaitu asalkan pengetahuan tersebut telah terkoordinasikan saja.

Ismani HP, Menunjukan  4 (empat) syarat yang perlu dipenuhi suatu pengetahuan untuk disebut sebagai disiplin ilmu, yaitu :

1. a body of knowledge systemized
2. a effective method
3. a definite subject matter
4. The formulation of general truth

(Ismani, HP : 4 : 1996)

Dengan keempat syarat yang ditunjukan oleh Ismani tersebut, maka syarat pertama yang harus dipenuhi oleh suatu ilmu pengetahuan adalah terdapatnya sejumlah pengetahuan yang sistematik, teratur, terorganisasikan serta diklasifikasikan secara baik.

Selain itu agar dapat diakui sebagai salah satu disiplin ilmu maka cabang ilmu pengetahuan tersebut harus menerapkan suatu metode yang efektif (berdayaguna dan tepat guna).

Syarat ketiga yang juga harus dipenuhi adalah bahwa ruang lingkup pokok bahasan dan sub-sub pokok bahasannya harus dengan secara tegas dapat ditunjukan batas-batasnya, sehingga tidak terjadi overlaping  dengan disiplin ilmu pengetahuan lainnya.

Sedangkan syarat terakhir adalah bahwa dalam ilmu pengetahuan tersebut terdapat kesimpulan-kesimpulan yang berlaku umum yang merupakan teori-teori dari disiplin ilmu pengetahuan yang bersangkutan.

2. Perkembangan paradigmatik suatu ilmu pengetahuan

Jika pertumbuhan suatu disiplin ilmu pengetahuan mencari jatidirinya untuk menjadi ilmu mandiri yang otonom lebih banyak berkembang secara kumulatif-evolusi, maka perkembangan paradigmatik suatu disiplin ilmu pengetahuan sedikit banyak cenderung bersifat revolusi pada tingkatan yang lebih tinggi sebagai payung tempat bernaungnya berbagai teori yang lahir pada saat paradigma tersebut berlaku.

Konsep tentang perkembangan ilmu pengetahuan melalui revolusi paradigma ini diperkenalkan pertama kali oleh Thomas S Kuhn  dalam bukunya yang berjudul The Structure of Scientific Revolusi pada tahun 1962.

Istilah paradigma sendiri, menimbulkan berbagai penafsiran dari berbagai pakar yang mencoba mengadaptasikannya dalam disiplin ilmu pengetahuan masing-masing karena pada waktu penerbitan pertama kalinya pada tahun 1962, Thomas S Kuhn sendiri tidak merumuskan secara jelas istilah paradigma yang kemudian diakui sendiri oleh Thomas S Kuhn pada bagian Pascawacana tahun 1969.

“Seorang pembaca yang simpatik, yang berbagai keyakinan dengan saya bahwa “paradigma” menyebutkan unsur-unsur filosofis yang menjadi pokok buku ini, menyiapkan indeks analitik parsial dan menyimpulkan bahwa istilah itu digunakan dengan sekurang-kurangnya 22 cara yang berbeda” (Thomas S Kuhn : 176 : 2000).

Diantara yang mencoba merumuskan pengertian paradigma tersebut adalah : George Ritzer, Mustopadidjaja, Sofian Effendi, Lili Rasyidi.

George Ritzer dengan merangkum pendapat Thomas S Kuhn, Masterman, dan Friend Richt, merumuskan pengertian paradigma sebagai : “Pandangan mendasar dari ilmuwan tentang apa yang menjadi pokok persoalan yang seharusnya dikaji oleh suatu cabang ilmu pengetahuan” (Bahan kuliah filsafat Ilmu, prof. DR. Lili Rasyidi, SH, S.Sos, LLM)

Mustopadidjaja, dalam bukunya paradigma-paradigma pembangunan administrasi dan manajemen pembangunan mengartikan paradigma sebagai.

“Teori dasar atau cara pandang yang fundamental, dilandasi nilai-nilai tertentu, dan berisi teori pokok, konsep, metodologi atau cara pendekatan yang dapat dipergunakan para teoritisi dan praktisi dalam menanggapi suatu permasalahan bagi kemajuan hidup dan kehidupan kemanusiaan” (bahan kuliah filsafat ilmu, prof. DR. Lili Rasyidi, SH, S.Sos, LLM).

Sofian Effendi, dalam makalah Paradigma pembangunan dan administrasi pembangunan. Mendefinisikan paradigma dalam 2 (dua) arti yaitu :

Pertama : Totalitas konstelasi pemikiran, keyakinan nilai, persepsi dan teknik yang dianut oleh akademisi maupun praktisi disiplin ilmu tertentu  yang mempengaruhi cara mereka memandang realitas.

Kedua :  Bagian dari konstelasi tadi yang  merupakan upaya manusia untuk memecahkan rahasia ilmu pengetahuan yang mampu menjungkir balikan semua asumsi maupun aturan yang ada. (bahan kuliah filsafat ilmu, prof. DR. Lili Rasyidi, SH, S.Sos, LLM)

Lili Rasyidi sendiri, menyimpulkan dengan kalimat ringkas bahwa yang dimaksud dengan paradigma adalah : “Keseluruhan susunan kepercayaan, nilai-nilai serta teknik-teknik yang digunakan bersama oleh kelompok (Komunitas) Ilmuwan tertentu” (bahan kuliah filsafat ilmu, prof. DR. Lili Rasyidi, SH, S.Sos, LLM)

Dalam karyanya tersebut, Thomas S Kuhn menunjukan bahwa dalam setiap periode dunia disiplin ilmu pengetahuan tertentu didominasi oleh suatu paradigma tertentu, yaitu suatu pandangan fundamental tentang apa yang menjadi pokok persoalan suatu ilmu pengetahuan.

Periode normal science adalah suatu periode pengumpulan ilmu pengetahuan, dimana para ilmuwan dibidangnya terus menerus menyelidiki dan menghasilkan karyanya untuk memperdalam dan memperluas paradigma yang sedang berpengaruh.

Kondisi pendalaman dan diskusi panjang tentang paradigma tersebut tanpa bisa terelakan akan menimbulkan penyimpangan-penyimpangan yang tidak bisa dijelaskan oleh paradigma bersangkutan. Periode ini telah memasuki periode   Anomalie.

Kondisi penyimpangan yang tidak bisa dijelaskan oleh paradigma bersangkutan tersebut secara terus-menerus menumpuk hingga terjadi krisis yang kemudian berakhir dalam bentuk suatu revolusi pengetahuan yaitu dimana terjadi paradigma yang lama tumbang dan digantikan paradigma baru yang dianggap lebih dapat menjawab tantangan permasalahan yang dihadapi oleh para ilmuwan. Proses ini kemudian akan terus berlanjut, paradigma baru tersebut kembali akan memasuki masa-masa normal science, berlanjut pada periode  anomalie,  krisis, revolusi dan digantikan oleh paradigma baru lagi, yang prosesnyaa dapat digambarkan, sebagai berikut :

Paradigma I — Nomal Science – Anomalie — Krisis —  Revolusi — Paradigma II

Sebagai suatu karya yang mendapat perhatian luas dari berbagai pihak dan memang telah menjadi tradisi dilingkungan ilmuwan maka tentu saja, karya Thomas S Kuhn tersebut mendapat kritikan,  terutama dari para ilmuwan sosial, diantaranya beberapa kritik yang disampaikan adalah  :

Pertama, model perkembangan ilmu pengetahuan dari Thomas S Kuhn tersebut tidak memperhitungkan daya tahan dan keuletan paradigma lama untuk mempertahankan dirinya serta diakui keberadaanya dalam disiplin ilmu pengetahuan bersangkutan, contoh paling kongret dalam kasus ini adalah dengan adanya beberapa paradigma yang tetap bertahan dalam ilmu Sosiologi yang walaupun masing-masing paradigma tersebut yaitu paradigma Fakta sosial, paradigma definisi sosial dan paradigma perilaku sosial saling menyerang untuk memperoleh dominasi namun masing-masing paradigma tersebut tetap bertahan dengan para pendukungnya masing-masing.

Kedua,    Model perkembangan ilmu pengetahuan dari Thomas S Kuhn tersebut terkesan kaku dan tidak memperhitungkan kemungkinan terjadi saling pengaruh-mempengaruhi atau terjadinya penyesuaian antara paradigma lama dengan paradigma baru. Pada periode puncak perdebatan antara kedua paradigma mungkin saja terjadi saling merendahkan untuk memperoleh dominasi, namun ketika klimak perdebatan  mereda tidak mustahil masing-masing paradigma saling terbuka terhadap kritik dan memperbaiki kekurangannya masing-masing. Dalam teori pembangunan ketika paradigma modernisasi klasik diserang oleh paradigma teori-teori dependensi klasik pada awal tahun 1960-an, maka pada sekitar tahun 1970-an teori-teori modernisasi mulai memperbaiki kelemahan-kelemahannya.  Demikian juga dengan teori-teori dependensi klasik mulai menerima kritik dan melahirkan teori dependensi baru.

Ketiga, Model perkembangan Ilmu Thomas S Kuhn tersebut, berangkat dari asumsi bahwa paradigma baru akan selalu menggantikan posisi paradigma lama. Asumsi ini mungkin benar pada ilmu pengetahuan alam (eksakta), namun tidak sepenuhnya tepat berlaku di dunia ilmu pengetahuan sosial, karena dalam suasana saling perdebatan tersebut tidak mustahil atau bahkan pada akhirnya akan memunculkan suatu sintesa baru lahirnya paradigma “jalan tengah”, misalnya paham rasionalism-instuisionism dan paham fenomenalism-emperism dalam filsafat ilmu yang melahirkan suatu sentesa dalam bentuk Scientific Methods.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s