SEKOLAH TINGGI ILMU ADMINISTRASI (STIA) AMUNTAI

Cashflow Qudrant


http://www.investasigo.com

Belajarlah yang rajin, biar dapat nilai baik dan ranking. Kuliahlah diperguruan tinggi terbaik, dan dapatkan pekerjaan yang baik di perusahaan besar yang bonafide, agar kamu sejahtera. Daftarlah sebagai pegawai pemerintah, kamu akan hidup tenang dan terjamin sampai tua. Gak usah bisnis segala macam, nanti kamu ditipu orang. Cepat cari kerja, jangan bisnis-bisnisan yang nggak menghasilkan. Nasihat-nasihat ini tentu populer buat kita kebanyakan. Orang tua, saudara, teman sekitar seringkali memberikan nasehat ini. Ini nasehat yang baik, tapi untuk era jaman industri, dimana kita memang dituntut memiliki skill yang baik untuk bekerja diberbagai industri. Kita memerlukan lulus dari perguruan tinggi yang baik agar dapat diterima kerja diperusahaan industri yang terkenal. Untuk masuk perguruan tinggi diperlukan nilai-nilai yang baik disekolah. Tapi kita disini didorong untuk menjadi pekerja, buruh.

Sedangkan untuk Indonesia sendiri, menjadi PNS masih menjadi dambaan banyak orang. Saya tidak bermaksud merendahkan profesi PNS, menjadi PNS adalah pekerjaan yang mulia dan perlu, akan tetapi kalau anda ingin kaya, rasanya agak sulit. Hal ini bisa dimengerti, karena selama lebih dari 350 tahun kita pernah dijajah, sehingga waktu itu adalah suatu yang terhormat apabila dapat bekerja kepada pemerintah/company, dan menjamin arus pemasukan yang tetap. Sedangkan profesi lain waktu itu sangat dibatasi,mayoritas adalah petani dan pekerja kasar, sangat sulit untuk masuk dalam ranah bisnis dan perdagangan pada waktu itu, karena dimonopoli oleh penjajah dan kelompok pendukung penjajah. Secara tidak sadar, budaya dan pemikiran seperti ini masih terpatri di banyak warga Indonesia. Budaya menjadi pekerja dan mencari yang aman-aman saja, tidak berani mengambil resiko.

Pernahkah anda mendengar nasehat-nasehat ini sebelumnya. Berbisnilah, jangan cari kerja kalau ingin jadi kaya. Selain belajar rajin disekolah, belajarlah untuk menghasilkan uang sejak masih muda. Kumpulkan uangmu, kemudian dibelikan aset sedikit demi sedikit. Buatlah anggaran keuangan bulanan dan catatlah yang baik nak. Mulailah membangun bisnis, jangan takut mengambil resiko, kalau gagal bangunlah bisnismu yang lain. Berinvestasilah sedini mungkin. Jangan boros, tabunglah uangmu. Hematlah, belanja seperlunya. Mungkin kita belum pernah mendengar nasehat-nasehat ini, atau pun kalau pernah mendengar mungkin tidak segencar nasehat diatas sebelumnya. Ini adalah nasehat-nasehat kecerdasan finansial. Mengapa kebanyakan dari kita jarang mendapatkan nasehat-nasehat kecerdasan finansial? karena mayoritas orang tua dan sekitar kita memang tidak diajarkan itu oleh kakek nenek kita dan lingkungannya. Dalam dunia penuh kesulitan ekonomi karena penjajahan, jangankan berfikir untuk berbisnis atau berinvestasi, untuk makan saja sudah susah, selain itu memang tidak diinginkan munculnya penduduk asli yang mampu berbisnis kuat. Penjajah berbisnis dengan cara monopoli, kekayaan dan harta dikuras habis untuk selanjutnya dikirimkan kenegara asalnya.

Dalam hal ini mungkin kita perlu belajar kepada saudara-saudara kita Tionghoa. Mereka sejak kecil sudah dikenalkan dengan bisnis keluarga. Apabila anak nya memiliki bakat atau kecerdasan tinggi, maka akan disekolahkan tinggi-tinggi agar mencapai kedudukan yang baik, tetapi apabila biasa-biasa saja, maka mereka didik untuk bisa berbisnis, terutama berdagang, sebagai bekal masa depannya. Sejak kecil, sepulang sekolah, mereka diminta untuk membantu mengurus toko keluarga, atau belajar menghitung uang. Dengan cara ini mereka mengajarkan kecerdasan finansial secara langsung, atau on the job training. Terkait dengan ini anda bisa mempelajari dengan lebih baik melalui berbagai sumber yang lain. Berdasarkan pengamatan saya, pola ini memang diterapkan. Teman-teman Tionghoa sepulang sekolah banyak yang jaga toko Bapaknya, seperti toko emas, toko baju, dan toko-toko yang lain. Secara ekonomi, mereka baik, karena mereka bergerak dibidang bisnis dan investasi. Jarang kita temui saudara-saudara Tionghoa mencari pekerjaan dan berkarir merangkak dari bawah.

Saya bukanlah anti pendidikan, karena saya sendiri dulu kuliah di PTN terkemuka di kota Bandung. SD, SMP, SMU saya lalui dengan prestasi akademis yang memuaskan, rangking 1-3 kelas atau sekolah selalu menghiasi raport. Saya sangat mendukung pendidikan. Tetapi yang saya sayangkan, rasanya selama sekolah dan kuliah, sangat sedikit pelajaran mengenai uang, cara mengelola, cara memperolehnya agar kita menjadi makmur dan terjamin hidup kita secara ekonomi dan sosial. Meskipun sebagian besar umur kita nantinya akan bergelut dengan mencari nafkah dan kesejahteraan, tetapi sangat sedikit dibahas dalam pendidikan kita. Dalam sistem pendidikan, kita didik menjadi penghafal segala sesuatu, penghitung segala sesuatu, dan menjadi seorang troubleshooting. Kita didik menjadi pencari kerja yang baik, bukan sebagai pembuat lapangan kerja yang baik. Jujur saja, berapa persenkah pelajaran-pelajaran disekolah dan kuliah yang masih kita ingat dengan baik dan kita gunakan sehari-hari? Bahkan masih ingatkah anda mata pelajaran apa saja yang anda terima ketika SD, ketika SMP, ketika SMU, dan ketika Kuliah dengan detil? Bahkan yang dekat-dekat saja, berapa persen pelajaran kuliah yang anda gunakan ketika bekerja?

Saya melihat setiap tahun puluhan ribu orang diwisuda dari perguruan tinggi, kebanyakan memiliki mimpi indah yang sama, mendapatkan pekerjaan yang layak di perusahaan besar. Demikian juga saya ketika itu. Tetapi ternyata kenyataan tidaklah seindah mimpi. Jumlah lowongan pekerjaan yang sesuai lebih sedikit daripada lulusan yang dihasilkan PT. Meskipun itu perguruan tinggi terkenal, ternyata wisudanya rata-rata memerlukan waktu menunggu cukup lama untuk mendapat pekerjaan. Dari pengamatan saya rata-rata menunggu untuk mendapat pekerjaan adalah 6 bulan, ada yang cepat, ada yang lambat. Saya cukup beruntung, termasuk rata-rata, dan pernah bekerja di 2 perusahaan besar, tetapi bagaimana dengan yang lebih lama dari rata-rata? Sedangkan mereka memegang ijasah perguruan tinggi terkemuka? Tentu beban psikologi akan menjadi sangat berat. Itu bukan isapan jempol, saya pernah menemui teman kuliah seangkatan, sedang test kerja di kampus, dan belum pernah bekerja samasekali meskipun pada waktu itu sudah memasuki tahun ke 4 setelah lulus kuliah. Dan yang seperti itu tidak sedikit. Saya dan banyak teman-teman lain resah, setelah lega sebentar bisa menyelesaikan kuliah,resah menunggu waktu kapan bisa mendapatkan pekerjaan yang layak, sedangkan hidup terus berjalan dan lingkungan menganggap kita orang berpendidikan tinggi yang sukses. Banyak yang akhirnya menghilang, memisahkan diri dari sosial, sebelum mendapatkan pekerjaan, karena merasa malu dan stress.

Poin yang ingin saya sampaikan disini, bahwa ada pilihan lain selain menjadi pekerja untuk menghasilkan uang. yaitu bisnis dan investasi. Kedua bidang ini adalah jalan cepat menuju kebebasan finansial. Apabila anda ingin menjadi kaya dan bebas secara finansial, anda harus mencari jalan anda sendiri di bidang ini dan segera membangun aset. Akan  menjadi lebih baik apabila sejak kecil kita sudah ditanamkan akan kecerdasan finansial ini. Tetapi tidak perlu khawatir, meskipun anda tidak mendapatkan ini sejak kecil, anda dapat meningkatkan kecerdasan finansial dengan banyak membaca buku, seminar, diskusi, dan mencari mentor yang mau membimbing anda untuk membangun aset. Kemudian anda mensetting tujuan anda, dan mulai membangun aset dengan optimal dan semangat. Keempat bidang ini yaitu : Employee, Self Employed, Business Owner, dan Investor, akan kita bahas lebih lanjut dalam artikel selanjutnya mengenai Cashflow Qudrant

Cukup lama rasanya posting terakhir saya mengenai pengantar cashflow quadrant dibuat. Ada yang penasaran dan menunggu lanjutannya nggak ya? Sebenarnya untuk membahas judul ini, saya agak malas (upz, nggak boleh malas ya?) , karena sudah banyak yang mengulas dan bukunya juga masih ada ditoko buku.  Tapi karena menurut saya cashflow quadrant cukup penting dan mencerahkan arah gerak usaha kita, maka saya lanjutkan saja bahasannya. Sedikit banyak saya harus mengingat dan mempelajari lagi topik ini yang pernah dipelajari tujuh tahun yang lalu. Kalau anda sudah membaca bukunya (Cashflow Quadrant oleh Robert T Kiyosaki) silahkan dilewati saja, atau berkomentar dibawah untuk memperkaya isi artikel ini.

Kalau saya tanya sekarang ini apakah pekerjaan anda sekarang ini? Mungkin ada yang menjawab PNS, karyawan swasta, dokter, mahasiswa, pedagang pasar, bisnis blog, penjaga warnet, dan lain sebagainya. Itu semua benar, tapi tahukah anda sebenarnya di dunia ini hanya ada 4 quadrant atau kelompok untuk mencari uang dan berkarir. Pengelompokan menjadi 4 qudrant ini terkait dengan cara memperoleh uangnya, sehingga disebut cashflow quadrant. 4 kelompok/quadrant ini adalah Employee (pegawai atau buruh), Self Employed(bekerja sendiri), Business Owner (pemilik bisnis), dan Investor (penanam modal). Pembagian tersebut dapat anda lihat dibawah ini.

Penjelasan :
E : Employee
S : Self Employed
B : Business Owner
I : Investor

E dan S termasuk quadrant kiri
B dan I termasuk quadrant kanan

Employee (pegawai atau buruh)
Adalah orang yang mendapatkan uang dengan cara bekerja kepada orang lain, atau suatu sistem bisnis yang merupakan milik orang lain, atau kepada organisasi milik orang lain. Employee menjual waktu dan kemampuannya untuk memberikan added value kepada bisnis atau organisasi orang lain. Employee bisa saja seorang office boy, seorang salesman, seorang supervisor, seorang manager, presiden direktur perusahaan, PNS, bahkan presiden negara ini adalah seorang Employee. Ciri khas seorang employee adalah dia akan digaji berdasarkan waktu dan kemampuan yang diberikan, dan menerima gaji rutin bulanan atau periodik dengan jumlah tertentu dari orang lain, perusahaan, organisasi, atau bahkan dari negara.

Seorang employee bisa sukses atau bisa juga dipecat. Seorang employee, tidak akan memperoleh gaji apabila dia tidak bekerja. Setiap saat siap menerima kemarahan atasan atas performance kerja yang tidak baik. Menerima gaji bulanan yang jumlahnya tertentu, atau bahkan seringkali merasa kurang, tetapi tidak memiliki daya kemampuan untuk menaikkan gajinya sendiri. Sering berharap-harap cemas, mendapatkan kenaikan gaji suatu saat, dan berusaha bekerja dengan lebih keras untuk mendapat penilaian baik atas kinerjanya, dengan harapan akan dipromosikan dan dengan cara itu akan mendapatkan kenaikan gaji. Seorang employee memiliki atasan yang harus diikuti perintahnya dan menjaga hubungan baik dengan atasan tersebut agar tidak kehilangan pekerjaan.

Self Employed (bekerja sendiri)
Termasuk dalam self employed adalah orang-orang yang bekerja mandiri atau lepas. Biasanya mereka adalah seorang profesional yang memiliki keahlian tertentu. Ciri khas dari self employed adalah dia jalankan sendiri, dia lakukan sendiri, dan pemasukan dia terima sendiri. Contoh self employed adalah seorang dokter praktek di klinik sendiri, pengacara yang membuka biro sendiri, tukang cukur rambut pinggir jalan, pedagang asongan, calo angkot, penulis lepas, dan lain-lain. Mereka mendapatkan uang atas jual jasa dan tenaga mereka sendiri secara personal. Tetapi mereka tidak akan mendapatkan penghasilan apabila tidak bekerja, misalnya dokter tidak praktek, pedagang rokok tidak ngasong, maka mereka tidak akan mendapatkan uang.

Self employed lebih bebas daripada employee, karena mereka menjadi majikan sekaligus bawahan sendiri, semua diatur dan ditangani sendiri. Dari segi penghasilan mereka tidak menerima gaji rutin sebagaimana employee, penghasilan mereka naik turun sebanding dengan usaha dan doa mereka sendiri. Seorang self employed bisa saja memiliki seorang asisten atau pekerja, seperti dokter dibantu resepsionis dan perawat, tetapi tetap, tanpa dokter bekerja, maka tidak akan mendapatkan penghasilan. Semakin keras usaha self employed, maka semakin besar penghasilan yang diperoleh, misalnya seorang dokter ingin menambah pemasukan dengan cara menambah jam buka praktek, selain dengan promosi.

Business Owner (pemilik bisnis)
Bisnis owner memperoleh uang dari sistem yang dia buat. Toko dibuat dengan suatu sistem sehingga bisa berjalan sendiri ada kasir, ada bagian stok/logistik, ada supervisor, ada cleaning sercive, dan sebagainya yang diatur dan dibuat sistem perdagangan toko. Bisnis owner atau biasanya familiar kita sebut sebagai bisnisman/bisniswoman berusaha keras agar sistem yang dia bangun running well dan mendapatkan profit dari sistem bisnisnya. Ciri khas dari bisnis owner adalah bekerja tidak terikat waktu, dan penghasilan tidak berbanding lurus dengan waktu kerja yang di pergunakan. Meskipun dia tidak bekerja, seperti pemilik warnet, kalau sudah running well, maka warnet itu tetap memberikan pemasukan buat bisnis owner.

Seorang bisnis owner memiliki kekuasaan terhadap bisnis dan pekerjanya. Dia berhak memutuskan untuk mem-PHK pegawainya apabila tidak perform. Tetapi dia memiliki resiko yang jauh lebih besar dari employee dan self employee yaitu bangkrut. Apabila seorang employee gagal, hanya PHK konsekwensi logisnya, dan mungkin di bisa mencari pekerjaan lagi. Self employed demikian juga. Sedangkan seorang business owner biasanya memiliki resiko bangkrut yang berakibat lebih masive, menyangkut uang banyak dan nasib para pekerjanya. Tetapi kalau berjalan lancar, seorang business owner akan memperoleh pemasukan yang jauh lebih besar dari pekerja. Apakah anda pernah mendengar seorang pegawai memperoleh gaji lebih besar dari untung perusahaan? Untung perusahaan itulah pemasukan untuk bisnis owner.

Investor (penanam modal)
Investor adalah orang yang memperolah uang dari uangnya yang diputar. Penghasilan seorang investor juga tidak dipengaruhi oleh waktu kerja yang diberikan. Bahkan seorang investor bisa tidak bekerja sama sekali, dan uangnya yang bekerja untuk dia. Besar kecil pemasukan uang seorang investor ditentukan oleh pengetahuan dan keahlian dia dalam mengelola uang dan mendayagunakan uang yang dimilikinya agar menjadi lebih berguna dan menguntungkan. Investor bisa saja menginvestkan uangnya dalam bisnis riil atau dalam investasi finance. Contoh seorang investor adalah investor property, membeli rumah dan apartemen untuk dikontrakkan. Membeli saham dengan return dan pembagian dividend yang tinggi untuk dia, mengeluarkan uang investasi membuka warung bakso, yang dikelola oleh teman, membayar sejumlah uang untuk membeli franchise, membeli mobil untuk direntalkan dengan cara dititipkan ke perusahaan rental, seperti Cipaganti rental, dan lain-lain. Investor hanya memiliki tiga kemungkinan, rugi, impas, atau untung. Semakin mahir dia memutar uangnya, maka semakin deras uang mengucur.

Sekarang coba anda jawab, anda di quadrant mana sekarang? Memang tidak selalu orang hanya di salah satu quadrant, employee saja, atau investor saja, tapi bisa saja satu orang berdiri di dua atau lebih quadrant. Contohnya seorang pegawai bank (employee), invest uang disaham (investor), dan dia membuka toko handphone di suatu mall (bisnis owner dan investor). Itu lebih baik. Sebenarnya 4 quadrant diatas dibagi menjadi 2, yaitu quadrant kiri (employee-self employed) dan quadrant kanan (bisnis owner-investor). Seorang yang ingin makmur dan bebas secara finansial memang harus berusaha untuk menjadi quadrant kanan atau berusaha untuk memiliki kaki di quadrant kanan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s