SEKOLAH TINGGI ILMU ADMINISTRASI (STIA) AMUNTAI

THE OTHER WOMAN


Stories by unknown author,  hikmah dari seberang, pustaka zawiyah, cetakan 8, 2008

Beberapa waktu yang lalu, aku keluar bersama wanita yang lain dari biasanya, gagasan ini justru dari isteriku sendiri.

“aku yakin kau akan menyintainya” kata isteriku

“tapi aku menyintaimu” protesku.

“aku tahu itu, tapi kau juga akan menyintainya”

Sebenarnya wanita yang dimaksud isteriku tidak lain adalah ibuku sendiri yg telah menjanda selama 19 tahun. Tuntutan pekerjaan dan 3 orang anakku membuatku jarang mengunjunginya.

Malam itu aku menelpon untuk mengajaknya kencan makan malam dan nonton bioskop, “ada apa? Kau baik-baik saja, kan ?” ibuku balik bertanya. Ibuku termasuk  tipe org yg beranggapan bahwa telepon di larut malam dan undangan mendadak adalah pertanda berita buruk. “kupikir akan sangat menyenangkan melewatkan waktu bersama ibu” jelasku. “Hanya kita berdua saja” Dia berpikir sejenak lalu berkata”aku setuju dengan rencanamu itu”

Jum’at itu, setelah kerja, aku meluncur kerumahnya untuk menjemput.  Aku sedikit gelisah. Sesampainya disana , kuperhatikan dia juga agak salah tingkah. Dia memakai mantel, menunggu didepan pintu, rambutnya dikeriting dan memakai baju yg dikenakan di ulang tahun perkawinannya yang terakhir. Dia tersenyum dengan wajah seberseri bidadari.

“aku bercerita kepada teman-temanku bahwa aku kencan dengan anakku. Mereka terkesan” katanya sambil memasuki mobil.  “Mereka tidak sabar menunggu cerita pertemuan kita ini”

Kami pergi ke restoran yang cukup baik dan nyaman. Ibuku menggandeng tanganku seakan-akan ia adalah isteri seorang presiden. Setelah kami duduk, ku baca menu. Mata ibuku hanya bisa melihat tulisan yg tercetak dgn huruf besar.

Selama makan kuperhatikan ibu selalu menatapku, senyuman nostalgia tersunggung di bibirnya “biasanya, aku yang selalu membacakan menu ketika kau masih kecil” kata ibuku. “sekarang santailah, biar aku yang ganti membaca untuk membalas kebaikan ibu” jawabku.

Selama makan malam, kami terlibat pembicaraan yang mengasyikkan, tidak ada yang istimewa, hanya tentang kejadian-kejadian terakhir dalam kehidupan kami berdua. Kami bicara banyak sampai lupa acara nonton film. Kemudian aku mengantarnya pulang. “aku akan keluar lagi bersamamu, tapi atas undanganku” kata ibuku “kalau kau setuju ?”

Sesampaiknya di rumah, isteriku bertanmya, “bagaimana acara makan malamnya ?”. “sangat menyenangkan, jauh lebih menyenangkan dari ku bayangkan” jawabku.

Beberapa hari kemudian ibuku meninggal dunia karena serangan jantung. Kejadian itu begitu mendadak sehingga aku tidak sempat berbuat apa-apa. Kemudian aku menerima amplop ibuku yg berisi kwitansi tanda lunas dari sebuah rumah makan yang rencananya akan kami kunjungi berdua. Amplop itu juga berisi secariki surat yang berbunyi ;

“telah kubayar lunas, mungkin aku tidak bisa kesana bersamamu, tapi aku tetap membayar untuk dua orang, untukmu dan isterimu, kau takkan pernah tahu arti malam itu bagiku. Aku menyintaimu”

Saat itu aku baru menyadari betapa pentingnya mengucapkan “aku mencintaimu” dan “memberi orang yang kita cintai waktu yang layak diterimanya.” Sebelum semuanya berakhir dan yang tinggal hanya penyesalan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s