SEKOLAH TINGGI ILMU ADMINISTRASI (STIA) AMUNTAI

Mangkuk kayu (The Wooden Bowl)


oleh ; bernard khoo

Seorang kakek tua pergi tinggal bersama anak, menantu dan cucunya yang berumur empat tahun. Kakek tua ini, tangannya gemetaran, penglihatannya kabur, dan jalannya bertatih-tatih.

Keluarga ini makan bersama di meja. Tapi tangan kakek tua yang gemetaran dan matanya yang kabur membuatnya tidak dapat makan dengan baik. Makanan sering jatuh ke lantai dan saat ia coba minum, airnya tertumpah ke atas meja.

Anak dan menantunya menjadi jengkel karena kakek tua itu sering mengotori meja makan.

“Kita harus berbuat sesuatu tentang ayah,” katanya anaknya.

“Aku sudah tidak tahan lagi dengan air yang tumpah ke mana-mana, makanan di lantai dan cara makannya yang membuat orang tidak nyaman.”

Lalu, pasangan suami istri ini menyiapkan satu meja kecil di hujung ruangan. Di situ, kakek tua makan sendirian sementara keluarganya menikmati makan bersama di meja makan. Karena kakek tua sering memecahkan piring, makanannya disajikan di atas mangkuk-mangkuk kayu.

Saat keluarganya memandang ke arahnya yang sedang duduk makan sendirian, seringkali mereka melihat air mata di mata kakek. Namun, tetap saja, pasangan suami istri itu dengan keras menegur kakek ketika ia menjatuhkan senduk atau menumpahkan makanan.

Suatu hari sebelum makan malam, sang ayah melihat anaknya bermain dengan serpihan kayu di lantai. Dengan hangat, ayahnya bertanya, “Apa yang sedang kamu lakukan?” Dengan penuh kasih anaknya menjawab, “Oh, saya sedang membuat mangkuk untuk papa dan mama makan setelah saya dewasa.” Dengan senyuman di bibir, anak itu melanjutkan apa yang sedang dilakukannya.

Kata-kata anak kecil itu membuat orang tuanya tersentak. Lalu air mata berlinangan di pipi mereka. Sekalipun mereka tidak berkata apa-apa, mereka tahu apa yang harus dilakukan.

Malam itu, sang suami memimpin tangan kakek dengan lembut dan membawanya ke meja makan keluarga. Di sisa hidupnya, kakek itu makan bersama keluarganya. Dan entah mengapa, anak atau menantunya, tidak lagi merasa terganggu saat kakek menjatuhkan senduk, menumpahkan air dan mengotori meja makan.

(Kisah ini pertama kali ditulis oleh Leo Tolstoy The old man and his grandson)

2 responses

  1. Welda Rusanti

    Wah, perlu pengkajian lebih mendalam pak…
    dimana diperlukan implementasi di kehidupan nyata….
    exp: diskusi kelompok, penelitian dan evaluasi

    24 September 2010 pukul 7:43 am

    • Jelaslah bagi kita selain sebagai bahan renungan juga perlu dipraktekan dalam kehidupan sehari-hari

      24 September 2010 pukul 8:00 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s