SEKOLAH TINGGI ILMU ADMINISTRASI (STIA) AMUNTAI

LEGENDA ATLANTIS PART 2 (Kumpulan tulisan yang percaya wilayah Indonesia termasuk dalam kawasan benua Atlantis di masa lampau)


Pada bagian kedua tulisan tentang legenda atlantis ini kita mencoba mengumpulkan berbagai tulisan yang percaya atau paling tidak beranggapan bahwa wilayah dan peradaban bangsa Atlantis pernah ada dan lokasinya berada di wilayah Asia Tenggara sekarang termasuk wilayah Indonesia, beberapa tulisan yang kita dapatkan dari berbagai sumber di internet, antara lain, Prof. Dr. H. Priyatna Abdurrasyid, Ph.D ( Direktur Kehormatan International Institute of Space Law (IISL), Paris-Prancis), Mohamad Asrori Mulky, peneliti Pusat Studi Islam dan Kenegaraan (PSIK) Universitas Paramadina Jakarta, Hasil temuan riset terbaru deoxyribonucleic acid atau DNA tentang asal-usul manusia Asia yang telah dirilis di jurnal Science pada 10 Desember 2009 berjudul “Mapping Human Genetic Diversity in Asia” tulisan Ahmad Yulden Erwin di http://atlantis-lemuria-indonesia.blogspot.com/, tulisan di Forum kaskus.com, Wikipedia Online , Kontraversi dan rekonstruksi OPPENHEIMER , Prof Arysio Nunes Dos Santos, Ph.D serta pandangan dari aspek Geologis, Ethnogeneses dan Arkeologis 

1. Prof. Dr. H. PRIYATNA ABDURRASYID, Ph.D. (Penulis, Direktur Kehormatan International Institute of Space Law (IISL), Paris-Prancis
Sumber: http://www.pikiran- rakyat.com/ cetak/2006/ 102006/02/ 0902.htm

MUSIBAH alam beruntun dialami Indonesia. Mulai dari tsunami di Aceh hingga yang mutakhir semburan lumpur panas di Jawa Timur. Hal itu mengingatkan kita pada peristiwa serupa di wilayah yang dikenal sebagai Benua Atlantis. Apakah ada hubungan antara Indonesia dan Atlantis?
Plato (427 – 347 SM) menyatakan bahwa puluhan ribu tahun lalu terjadi berbagai letusan gunung berapi secara serentak, menimbulkan gempa, pencairan es, dan banjir. Peristiwa itu mengakibatkan sebagian permukaan bumi tenggelam. Bagian itulah yang disebutnya benua yang hilang atau Atlantis.
Penelitian mutakhir yang dilakukan oleh Aryso Santos, menegaskan bahwa Atlantis itu adalah wilayah yang sekarang disebut Indonesia. Setelah melakukan penelitian selama 30 tahun, ia menghasilkan buku Atlantis, The Lost Continent Finally Found, The Definitifve Localization of Plato’s Lost Civilization (2005). Santos menampilkan 33 perbandingan, seperti luas wilayah, cuaca, kekayaan alam, gunung berapi, dan cara bertani, yang akhirnya menyimpulkan bahwa Atlantis itu adalah Indonesia. Sistem terasisasi sawah yang khas Indonesia, menurutnya, ialah bentuk yang diadopsi oleh Candi Borobudur, Piramida di Mesir, dan bangunan kuno Aztec di Meksiko.
Bukan kebetulan ketika Indonesia pada tahun 1958, atas gagasan Prof. Dr. Mochtar Kusumaatmadja melalui UU no. 4 Perpu tahun 1960, mencetuskan Deklarasi Djoeanda. Isinya menyatakan bahwa negara Indonesia dengan perairan pedalamannya merupakan kesatuan wilayah nusantara. Fakta itu kemudian diakui oleh Konvensi Hukum Laut
Internasional 1982. Merujuk penelitian Santos, pada masa puluhan ribu tahun yang lalu wilayah negara Indonesia merupakan suatu benua yang menyatu. Tidak terpecah-pecah dalam puluhan ribu pulau seperti halnya sekarang.
Santos menetapkan bahwa pada masa lalu itu Atlantis merupakan benua yang membentang dari bagian selatan India, Sri Lanka, Sumatra, Jawa, Kalimantan, terus ke arah timur dengan Indonesia (yang sekarang) sebagai pusatnya. Di wilayah itu terdapat puluhan gunung berapi yang aktif dan dikelilingi oleh samudera yang menyatu bernama orientale, terdiri dari Samudera Hindia dan Samudera Pasifik.
Teori Plato menerangkan bahwa Atlantis merupakan benua yang hilang akibat letusan gunung berapi yang secara bersamaan meletus. Pada masa itu sebagian besar bagian dunia masih diliput oleh lapisan-lapisan es (era Pleistocene) . Dengan meletusnya berpuluh-puluh gunung berapi secara bersamaan yang sebagian besar terletak di wilayah Indonesia (dulu) itu, maka tenggelamlah sebagian benua dan diliput oleh air asal dari es yang mencair. Di antaranya letusan gunung Meru di India Selatan dan gunung Semeru/Sumeru/ Mahameru di Jawa Timur. Lalu letusan gunung berapi di Sumatera yang membentuk Danau Toba dengan pulau Somasir, yang merupakan puncak gunung yang meletus pada saat itu. Letusan yang paling dahsyat di kemudian hari adalah gunung Krakatau (Krakatoa) yang memecah bagian Sumatera dan Jawa dan lain-lainnya serta membentuk selat dataran Sunda.
Atlantis berasal dari bahasa Sanskrit Atala, yang berarti surga atau menara peninjauan (watch tower), Atalaia (Potugis), Atalaya (Spanyol). Plato menegaskan bahwa wilayah Atlantis pada saat itu merupakan pusat dari peradaban dunia dalam bentuk budaya, kekayaan alam, ilmu/teknologi, dan lain-lainnya. Plato menetapkan bahwa letak Atlantis itu di Samudera Atlantik sekarang. Pada masanya, ia bersikukuh bahwa bumi ini datar dan dikelilingi oleh satu samudera (ocean) secara menyeluruh.
Ocean berasal dari kata Sanskrit ashayana yang berarti mengelilingi secara menyeluruh. Pendapat itu kemudian ditentang oleh ahli-ahli di kemudian hari seperti Copernicus, Galilei-Galileo, Einstein, dan Stephen Hawking.
Santos berbeda dengan Plato mengenai lokasi Atlantis. Ilmuwan Brazil itu berargumentasi, bahwa pada saat terjadinya letusan berbagai gunung berapi itu, menyebabkan lapisan es mencair dan mengalir ke samudera sehingga luasnya bertambah. Air dan lumpur berasal dari abu gunung berapi tersebut membebani samudera dan dasarnya, mengakibatkan tekanan luar biasa kepada kulit bumi di dasar samudera, terutama pada pantai benua. Tekanan ini mengakibatkan gempa. Gempa ini diperkuat lagi oleh gunung-gunung yang meletus kemudian secara beruntun dan menimbulkan gelombang tsunami yang dahsyat. Santos menamakannya Heinrich Events.
Dalam usaha mengemukakan pendapat mendasarkan kepada sejarah dunia, tampak Plato telah melakukan dua kekhilafan, pertama mengenai bentuk/posisi bumi yang katanya datar. Kedua, mengenai letak benua Atlantis yang katanya berada di Samudera Atlantik yang ditentang oleh Santos. Penelitian militer Amerika Serikat di wilayah Atlantik terbukti tidak berhasil menemukan bekas-bekas benua yang hilang itu. Oleh karena itu tidaklah semena-mena ada peribahasa yang berkata, “Amicus Plato, sed magis amica veritas.” Artinya,”Saya senang kepada Plato tetapi saya lebih senang kepada kebenaran.”
Namun, ada beberapa keadaan masa kini yang antara Plato dan Santos sependapat. Yakni pertama, bahwa lokasi benua yang tenggelam itu adalah Atlantis dan oleh Santos dipastikan sebagai wilayah Republik Indonesia. Kedua, jumlah atau panjangnya mata rantai gunung berapi di Indonesia. Di antaranya ialah Kerinci, Talang, Krakatoa, Malabar, Galunggung, Pangrango, Merapi, Merbabu, Semeru, Bromo, Agung, Rinjani. Sebagian dari gunung itu telah atau sedang aktif kembali.
Ketiga, soal semburan lumpur akibat letusan gunung berapi yang abunya tercampur air laut menjadi lumpur. Endapan lumpur di laut ini kemudian meresap ke dalam tanah di daratan. Lumpur panas ini tercampur dengan gas-gas alam yang merupakan impossible barrier of mud (hambatan lumpur yang tidak bisa dilalui), atau in navigable (tidak dapat dilalui), tidak bisa ditembus atau dimasuki. Dalam kasus di Sidoarjo, pernah dilakukan remote sensing, penginderaan jauh, yang menunjukkan adanya sistim kanalisasi di wilayah tersebut. Ada kemungkinan kanalisasi itu bekas penyaluran semburan lumpur panas dari masa yang lampau.
Bahwa Indonesia adalah wilayah yang dianggap sebagai ahli waris Atlantis, tentu harus membuat kita bersyukur. Membuat kita tidak rendah diri di dalam pergaulan internasional, sebab Atlantis pada masanya ialah pusat peradaban dunia. Namun sebagai wilayah yang rawan bencana, sebagaimana telah dialami oleh Atlantis itu, sudah saatnya kita belajar dari sejarah dan memanfaatkan perkembangan ilmu pengetahuan mutakhir untuk dapat mengatasinya.

2. Mohamad Asrori Mulky, (peneliti Pusat Studi Islam dan Kenegaraan (PSIK) Universitas Paramadina Jakarta)
Sumber : Jawa Pos, Minggu, 10 Januari 2010

CERITA mengenai keberadaan Benua Atlantis hingga kini terus menjadi misteri sejak dideskripsikan filsuf Yunani, Plato, pada ribuan tahun lalu dalam dua dialognya, “Timaeus” dan “Critias”. Tak hanya Plato, penulis kuno klasik lainnya seperti Homer, Hesiod, Pindar, Orpheus, Appolonius, Theopompos, Ovid, Pliny si tua, Diodorus Siculus, Strabo, dan Aelian juga ikut meramaikan soal keberadaan Atlantis.
Kenyataan ini pada akhirnya memunculkan perdebatan tak kunjung usai di kalangan saintis klasik dan modern. Bahkan, masing-masing meletakkan Atlantis di tempat yang mereka yakini sesuai dengan hasil temuannya seperti Al-Andalus, Kreta, Santorini, Siprus, Timur Tengah, Malta, Sardinia, Troya, Antartika, Australia, Kepulauan Azores, Tepi Karibia, Bolivia, Laut Hitam, Inggris, Irlandia, Kepulauan Canary, Tanjung Verde, Isla de la Juventud dekat Kuba, dan Meksiko.
Pandangan yang paling mutakhir mengenai Atlantis -dan sangat mengejutkan kita- datang dari seorang geolog dan fisikawan nuklir asal Brazil Prof Arysio Santos. Dia membantah tesis di atas dan meyakini bahwa Atlantis yang pernah digambarkan Plato sebagai sebuah negara makmur dengan kekayaan emas, batuan mulia, dan mother of all civilization dengan kerajaan berukuran benua yang menguasai pelayaran, perdagangan, menguasai ilmu metalurgi, memiliki jaringan irigasi, dengan kehidupan berkesenian, tarian, teater, musik, dan olahraga itu adalah Indonesia.
Kesimpulan Santos yang merujuk pada pandangan Plato bukan tanpa pertimbangan kuat. Selama 30 tahun ia melakukan studi dan penelitian. Selama itu pula hidupnya dipergunakan untuk mengungkap letak Atlantis yang sebenarnya. Hasil penelitiannya itu kemudian ia tulis dalam buku Atlantis, The Lost Continent Finally Found, The Definitive Localization of Plato’s Lost Civilization. Untuk memperkuat argumentasinya, Santos juga merujuk pada tradisi-tradisi suci tentang mitos banjir besar yang melanda seluruh dunia.
Dalam buku ini, secara tegas Santos menyatakan bahwa lokasi Atlantis yang hilang sejak kira-kira 11.600 tahun yang lalu itu adalah di Indonesia. Selama ini, benua yang diceritakan Plato 2.500 tahun yang lalu itu adalah benua yang dihuni oleh bangsa Atlantis. Mereka memiliki peradaban yang sangat tinggi dengan alamnya yang sangat kaya, yang kemudian hilang tenggelam ke dasar laut oleh bencana banjir dan gempa bumi. Itu terjadi sebagai hukuman dari Tuhan atas keserakahan dan keangkuhannya.
Dengan menggunakan perangkat ilmu pengetahuan mutakhir seperti geologi, astronomi, paleontologi, arkeologi, linguistik, etnologi, dan comparative mythology, Santos juga mengungkap sebab-sebab hilangnya Atlantis dari muka bumi. Dia pun membantah hipotesis yang menyatakan bahwa musnahnya Atlantis disebabkan tabrakan meteor raksasa yang disebabkan oleh komet dan asteroid. Menurut Santos, tabrakan di luar angkasa itu adalah order of magnitude yang lebih jarang terjadi bila dibandingkan dengan letusan gunung berapi.
Hipotesis lain yang dibantah Santos adalah tesis yang mengatakan Atlantis musnah disebabkan pergeseran kutub dan memanasnya Antartika pada zaman es. Menurut Santos, fenomena seperti itu mustahil terjadi pada masa lalu jika dilihat dari sisi fisik dan geologisnya.
Musnahnya Atlantis, menurut Santos, lebih disebabkan banjir mahadahsyat yang menenggelamkan hampir seluruh permukaan dunia, yang membinasakan 70 persen penduduk dunia -termasuk di dalamnya binatang. Yang memegang peran penting dalam bencana tersebut adalah letusan Gunung Krakatau dan Gunung Toba, selain puluhan gunung berapi lainnya yang terjadi hampir dalam waktu yang bersamaan.
Bencana alam beruntun itu, kata Santos, dimulai dengan ledakan dahsyat Gunung Krakatau, yang memusnahkan seluruh gunung itu sendiri, dan membentuk sebuah kaldera besar, yaitu Selat Sunda, hingga memisahkan Pulau Sumatera dan Jawa. Letusan tersebut menimbulkan tsunami dengan gelombang laut yang sangat tinggi, yang kemudian menutupi dataran rendah antara Sumatera dengan Semenanjung Malaysia, antara Jawa dan Kalimantan, serta antara Sumatera dan Kalimantan. Bencana besar itu disebut Santos sebagai “Heinrich Events”.
Abu hasil letusan gunung Krakatau yang berupa fly-ash naik tinggi ke udara dan ditiup angin ke seluruh bagian dunia yang pada masa itu sebagian besar masih ditutup es (zaman es pleistosen). Abu itu kemudian turun dan menutupi lapisan es. Karena adanya lapisan abu, es kemudian mencair sebagai akibat panas matahari yang diserap oleh lapisan abu tersebut. Gletser di Kutub Utara dan Eropa kemudian meleleh dan mengalir ke seluruh bagian bumi yang rendah, termasuk Indonesia.
Banjir akibat tsunami dan lelehan es itulah yang mengakibatkan air laut naik sekitar 130 hingga 150 meter di atas dataran rendah Indonesia. Dataran rendah di Indonesia tenggelam di bawah permukaan laut, dan yang tinggal adalah dataran tinggi dan puncak-puncak gunung berapi. Tekanan air yang besar itu menimbulkan tarikan dan tekanan yang hebat pada lempeng-lempeng benua, yang selanjutnya menimbulkan letusan-letusan gunung berapi dan gempa bumi yang dahsyat. Akibatnya adalah berakhirnya zaman es pleistosen secara dramatis.
Terlepas dari benar atau tidaknya teori tersebut, atau dapat dibuktikannya atau tidak kelak keberadaan Atlantis di bawah laut di Indonesia, teori Santos sampai saat ini ternyata mampu menarik perhatian orang luar ke Indonesia. Kalau ada yang beranggapan bahwa kualitas bangsa Indonesia sekarang sama sekali “tidak meyakinkan” untuk dapat dikatakan sebagai nenek moyang dari bangsa-bangsa maju yang diturunkannya, ini adalah suatu proses dari hukum alam tentang masa keemasan dan kemunduran suatu bangsa.

3. Temuan Riset DNA Bangsa Atlantis
Sumber OPINI Rakyatjelata | 22 Februari 2010 | 20:29

Hasil temuan riset terbaru deoxyribonucleic acid atau DNA tentang asal-usul manusia Asia menunjukkan bahwa Asia Tenggara merupakan sumber geografis utama dari populasi di Asia yang kemudian menyebar ke utara. Hasil riset tersebut telah dirilis di jurnal Science pada 10 Desember 2009 berjudul “Mapping Human Genetic Diversity in Asia”. Hasil temuan tersebut akhirnya membantah teori sebelumnya yang menyebut bahwa ada jalur majemuk migrasi nenek moyang bangsa Asia, yakni melalui jalur utara dan jalur selatan, serta membantah bahwa bangsa Asia Tenggara (yang berbahasa Austronesia) berasal dari Taiwan. Sehingga catatan sejarah sepertinya harus diperbaiki bila ditilik dari hasil temuan riset tersebut yaitu harusnya nenek moyang bangsa Asia berasal dari Asia Tenggara
Hasil temuan tersebut agak mirip dengan hasil pemikiran Prof santos yang menganggap Indonesia adalah Atlantis sebenarnya. Prof Santos dalam bukunya “Atlantis The Lost Continents Finally Found” menyebutkan Ketika jaman es berakhir, dimana air laut naik setinggi kira-kira 130 meter, penduduk Atlantis yang selamat terpaksa keluar dari paparan sunda dan pindah ke India, Asia Tenggara, China, Polynesia, dan Amerika. Pada saat buku tersebut di terbitkan (2005) banyak ilmuan yang menolak hasil pemikiran dan penelitian 29 tahun Prof Santos menyangkut migrasi penduduk Atlantis karena dianggap tidak sesuai dengan catatan sejarah yang telah dituliskan sebelumnya.
Sebetulnya bila kita liat dari catatan Plato mengenai ciri-ciri geografis Atlantis agak mirip dengan Indonesia, walaupun perlu adanya temuan relief atau benda-benda sejarah untuk lebih memastikannya. Sampai saat ini belum ada temuan sejarah yang dapat mengarahkan dimanakah letak Atlantis. Keberadaan Atlantis hanya berasal dari catatan Plato dan bisa di interpretasikan di manapun di seluruh dunia bila di hubung-hubungkan.
Untuk bisa menghubung-hubungkan antara Indonesia dan Atlantis berarti kita harus melihat catatan dari Plato karena dari catatan tersebut awal permulaan polemik tentang keberadaan Atlantis. Ada catatan Plato ( Critias & Timaeus ) yang menggambarkan kharakteristik Atlantis mirip kharakteristik Indonesia :
1. Tanah Atlantis adalah tanah yang terbaik di dunia dan karenanya mampu menampung pasukan dalam jumlah besar (Critias)
2. Tanah ini juga mendapatkan keuntungan dari curah hujan tahunan, memiliki persedian yang melimpah di semua tempat (Cristias)
3. Orichalcum ( Tembaga dan Kuningan ) bisa di gali dibanyak wilayah di pulau itu. Pada masa itu Orichalcum lebih berharga dibanding benda berharga apapun kecuali emas. Di pulau itu juga banyak terdapat kayu untuk pekerjaan para tukang dan cukup banyak persedian untuk hewan-hewan ternak ataupun hewan liar, yang hidup di sungai ataupun darat, yang hidup di gunung ataupin daratan. Bahkan di pulau itu juga terdapat banyak gajah.(Cristias)
4. Kekuatan ini datang dari samudra Atlantik. Pada waktu itu, samudra Atlantik dapat dilayari dan ada sebuah pulau yang terletak di hadapan selat yang engkau sebut pilar-pilar hercules. Pulau itu lebih luas dibandingkan dengan gabungan Libya dan Asiakecil dan pilar-pilar ini juga merupakan pintu masuk ke pulau-pulau lain di sekitarnya, dan dari pulau-pulau itu engkau dapat sampai ke seluruh benua yang menjadi pembats laut Atlantik. Laut yang ada di dalam pilar-pilar Hercules hanyalah seperti debuah pelabuhan yang memiliki pintu masuk yang sempit. namun laut yang di luarnya dalah laut yang sesungguhnya, dan benua yang mengelilinginya dapat di sebut benua tanpa batas. Di wilayah Atlantis ini, ada sebuah kerajaan besar yang memerintah keseluruhan pulau dan pulau lain di sekitarnya serta sebagian wilayah di benua lainnya. (Timaeus)
5. Di tengah tengah pulau itu ada sebuah daratan yang dianggap terbaik dan memiliki tanah yang subur…(Cristias)
6. Banyak air bah yang telah terjadi selama 9000 tahun, yaitu jumlah tahun yang telah terjadi, yaitu jumlah tahun yang telah terjadi ketika aku berbicara. Dan selam waktu itu juga terjadi banyak perubahan. Tidak pernah terjadi dalam sejarah begitu banyak akumulasi tanah yang jatuh dari pegunungan di satu wilayah. Namun tanah telah berjatuhan dan menimbun wilayah Atlantis dan menutupinya dari pandangan mata.”
7. Karena hanya dalam semalam, hujan yang luar biasa lebat menyapu bumi dan pada saat yang bersamaan terjadi gempa bumi. Lalu muncul air bah yang menggenang seluruh wilayah.” (Critias)
8. “Masing-masing daratan memiliki sirkumferen yang berjarak sama dari tengah pulau tersebut. Jadi tidak ada satu orang dan satu kapalpun yang dapat mencapai pulau itu. Poseidon lalu membuat dua mata air di tengah-tengah pulau, satu air hangat dan satu lagi air dingin. ia juga membuat berbagai macam makanan muncul dari tanah yang subur.” (Critias)
9. Pasukan yang satu dipimpin oleh kota-kota Athena. Di pihak lain, pasukannya dipimpin langsung oleh raja-raja dari Atlantis, yaitu seperti yang telah aku jelaskan, sebuah pulau yang lebih besar dibanding gabungan Libya dan Asia, yang kemudian dihancurkan oleh sebuah gempa bumi dan menjadi tumpukan lumpur yang menjadi penghalang bagi para penjelajah yang berlayar ke bagian samudera yang lain. (Critias)
Dari 9 ( sembilan ) catatan Plato yang bisa di interpretasikan agak mirip dengan kharakteristik Indonesia karena itu kita bisa menghubung-hubungkannya. Plato menyatakan tanah Atlantis adalah tanah yang subur yang di beri curah hujan tinggi sehingga mampu mencukupi kebutuhan hidup mahluk yang tinggal didalamnya mirip seperti daerah beriklim tropis seperti Indonesia. Dari catatan tersebut juga menyebutkan bahwa penduduk bangsa Atlantis cukup besar di jaman-nya sehingga mampu membangun kekuatan militer yang besar, 3 ( tiga ) negara berpenduduk padat saat ini berada di India, China dan Indonesia. ke 3 (tiga) negara tersebut oleh Prof Santos disebut sebagai wilayah kekuasaan Atlantis.
Atlantis merupakan negara yang kaya mineral khususnya orichalcum (tembaga dan kuningan) dan tidak hanya tanah Atlantis begitu suburnya sehingga memiliki jumlah kayu dan tumbuhan yang berlimpah (hutan) serta hewan bahkan menyebutkan gajah. Hanya di negara beriklim tropis seperti Asia selatan, Asia Tenggara dan Amerika Selatan yang memiliki hutan yang lebat (hutan hujan tropis) sehingga memiliki jumlah banyak kayu. Negara beriklim tropis dimana Gajah berada hanya ada di kawasan hutan India dan Indonesia. Indonesia adalah penghasil tembaga terbesar ke 3 (tiga) di dunia.
Pada catatan Timeus di sebutkan Atlantis adalah negara kepulauan dimana kekuasaan Atlantis seluas libya ditambah asia kecil. Negara Atlantis berada di sebuah pulau yang menguasai pulau-pulau lain dan sebagian benua. Jadi menurut rakyat jelata bukan pulau yang di tempati negara Atlantis yang luas tapi luas kekuasaannya seperti halnya Majapahit pada abad ke 13. Majapahit di jamannya hanya seluas jawa timur + jawa tengah + Madura tetapi kerajaan-kerajaan yang tunduk di bawah kekuasaan majapahit bila di gabungkan sebesar nusantara + malaysia + filipina + thailand.
Bila kita lihat dari hasil gambaran jaman es ketika paparan sunda belum tenggelam, masih menunjukkan area yang patut di duga negeri Atlantis berupa benua Asia berbatasan dengan pulau-pulau besar seperti sulawesi, gabungan irian + australia serta kepulauan filipina, gambaran geografis tersebut menunjukkan bahwa di area itu merupakan geografis kepulauan.
Plato menyebutkan Athena berperang dengan raja-raja Atlantis, berarti ada gabungan dari beberapa kerajaan yang sedang berperang dengan Athena. Berarti perang yang terjadi mirip seperti perang troya yang memunculkan legenda kuda troya, dimana kerajaan troya di keroyok oleh gabungan kerajaan-kerajaan di Yunani tetapi menggunakan satu bendera. Jadi ada kemungkinan Athena dalam suasana akan diserang oleh kerajaan-kerajaan yang bergabung dalam bendera ATLANTIS
Atlantis hancur karena bencana, bila kita baca dari catatan tersebut ada hujan lebat di iringi gempa bumi dan kemudian muncullah air bah. Kejadian tersebut mirip dengan catatan mengenai letusan Krakatau Purba yang diambil dari sebuah teks Jawa Kuno yang berjudul Pustaka Raja Parwa : Ada suara guntur yang menggelegar berasal dari Gunung Batuwara. Ada pula goncangan bumi yang menakutkan, kegelapan total, petir dan kilat. Kemudian datanglah badai angin dan hujan yang mengerikan dan seluruh badai menggelapkan seluruh dunia. Sebuah banjir besar datang dari Gunung Batuwara dan mengalir ke timur menuju Gunung Kamula…. Ketika air menenggelamkannya, pulau Jawa terpisah menjadi dua, menciptakan pulau Sumatera ( Letusan Gunung Krakatoa Purba ). Tulisan mengenai letusan gunung krakatau purba berasal dari abad ke 4 ( empat ) tetapi apakah tulisan ini menggambarkan kejadian abad ke 4 (empat) atau menceritakan kejadian masa lampau yang telah lama terjadi bagaimana sumatra dan jawa bisa terpisah. Letusan gunung Krakatau juga pernah terjadi pada jaman es dan letusan krakatau di tambah gunung toba merupakan salah satu faktor yang patut di duga menimbulkan berakhirnya jaman es ( abad 6 SM ). Plato menceritakan berakhirnya era Atlantis karena bencana setelah terjadi 9000 tahun kalender mesir (6 SM), apakah tulisan jawa kuno itu juga menceritakan sesuatu yang telah berlalu lama mengenai terpisahnya jawa dan sumatra. Karena paparan sunda dan selat sunda yang yang masih berupa daratan akhirnya tenggelam pada masa berakhirnya jaman es. Pada saat tersebut jawa, sumatra, semanjung malaysia kalimantan masih bergabung dengan benua asia ( paparan sunda ) sedangkan irian dan Auatralia menjadi satu daratan.
Banyak sejarahwan yang masih meragukan keberadaan Atlantis di kawasan Paparan Sunda karena tidak banyak bukti sejarah berupa artefak, bangunan dan bukti fisik lainnya yang menunjukkan bahwa peradaban di asia tenggara pernah begitu maju di jamannya. Sebetulnya apabila menggunakan logika terbalik, dimana Atlantis itu paparan Sunda yang tenggelam berarti bukti-bukti sejarah itupun ikut tenggelam. Apabila di cari di daratan yang masih tersisa maka yang di temukan adalah peradaban yang berkembang setelahnya, karena banyak peradaban berkembang di dunia berada di area yang dekat pesisir /sungai (tidak jauh dari pantai / sungai). Sedangkan area pesisir itu sekarang menjadi lautan yang di kenal laut jawa. Berarti untuk menemukan bekas-bekas Atlantis yang di duga di paparan sunda maka laut jawa harus di teliti.
Ketika saya berdialog dengan beberapa teman mengenai Atlantis patut di duga berada di paparan sunda, mereka tidak percaya karena masyarakat dari sisa daratan paparan sunda yang tidak tenggelam seperti Jawa, Sumatra, Semenanjung Melayu,dan Kalimantan menunjukkan bercirikan agraris. Sebetulnya banyak individu lupa akan lagu nenek moyang ku seorang pelaut dan relief kapal candi borobudur, bahkan “Buku “Penjelajah Bahari, Pengaruh Peradaban Nusantara di Afrika”, karya Robert Dick-Read, terbitan Mizan (juni 2008), membawa angin segar terhadap bukti-bukti arkeologis tentang peranan pelaut Indonesia kuno dalam memajukan perdagangan dunia. 4000 tahun lalu, jejak pelaut Indonesia terekam di kerajaan Mesir, Fir’aun dinasti ke-12, Sesoteris III. Lewat data arkeolog mengenai transaksi Mesir dalam mengimpor dupa, kayu eboni, kemenyan, gading, dari daratan misterius tempat “Punt” berasal. Meski dukungan arkeologis sangat kurang, negeri “Punt” dapat diidentifikasi setelah Giorgio Buccellati menemukan wadah yang berisi benda seperti cengkih di Efrat tengah. Pada masa 1.700 SM itu, cengkih hanya terdapat di kepulauan Maluku, Indonesia. Dengan ditemukannya sisa-sisa kambing di situs pemukiman Pulau Timor, menjadi bukti perdagangan pelaut Austronesia dengan Timur tengah dan kemungkinan kuat menggunakan kano atau perahu untuk pengangkutannya. Dimana pelaut-pelaut nusantara telah lama mengarungi lautan dan menemukan pulau-pulau eksotis, seperti Kilwa, Lamu, dan Zanzibar, madagaskar, tanjung harapan jauh sebelum bangsa Arab ataupun Shirazi. Bahkan orang jawa terkenal dengan kapal besar / bahtera berbobot 1000 ton yg dipanggil jung (jenis kapal ini punah stelah Belanda memonopoli perdagangan dan melakukan penjajahan), kapal jung ini menjadi dekap kagum bangsa portugis karena kapal laut terbesar mereka bagaikan bukan kapal laut bila di sandingkan dengan bahtera kapal jung bangsa jawa. Semasa keemasan Sriwajaya, ada pengangkutan emas dari Afrika ke Sumatra itu kenapa sumatra dikenal dengan SwarnaDwipa. Pelaut Indonesia juga berhubungan erat dengan kerajaan Romawi dan Yunani Kuno, dengan sebuah pertanyaan ganjil, mengapa rempah-rempah berupa kayu manis (cassia) atau Cinnamun dan lada bisa sampai ke mediterania setelah pemindahan muatan di Horn of Africa? Robert Dick-Read menulis dalam buku’nya”. Bangsa ini menjadi mantan bangsa pelaut karena politik penjajahan bangsa Belanda yang memonopoli perdagangan dengan hanya kapal Belanda yang berkenan mengangkut hasil bumi.
Yang rakyat jelata bayang-bayangkan ini bukan fakta sejarah mengenai keberadaan bangsa Atlantis di paparan sunda, hanya menghubung-hubungkan dari catatan Plato dengan kharakteristik dan apa yang di ketahui rakyat jelata mengenai sejarah bangsa ini. Banyak buku yang terbit mengenai ATLANTIS berasal dari terwangan para pemikir terhadap catatan Plato bukan dari bukti-bukti fisik yang di temukan. Atlantis masih menjadi perdebatan di dunia, keberadaannya banyak di klaim di berbagai tempat. Biarkan waktu yang menjawab dimana keberadaannya

4. AHMAD YULDEN ERWIN
Sumber: http://atlantis-lemuria-indonesia.blogspot.com/

Setelah berkonsultasi dengan “pakar” soal Atlantis dari Indonesia, saya dapat jawaban sebagai berikut: “Ada banyak versi tentang Atlantis, E. Cayce bilang bahwa Lemuria itu nama benuanya, dan Atlantis itu nama negaranya (diperkirakan eksis 24.000 – 10.000 SM.)
“Negara Atlantis itu terbagi dalam beberapa daerah atau pulau atau kalau sekarang istilahnya mungkin provinsi atau negara bagian. Daerah kekuasaan Atlantis terbentang dari sebelah barat Amerika sekarang sampai ke Indonesia. Atlantis menurut para ahli terkena bencana alam besar paling sedikit 3 kali sehingga menenggelamkan negara itu.
“Jadi, kemungkinan besar Atlantis itu tenggelam tidak sekaligus, tetapi perlahan-lahan, dan terakhir yang meluluh lantakkan negara itu terjadi sekitar tahun 12.000 – 10.000 SM. Pada masa itu es di kutub mencair dan menenggelamkan negara itu. Terjadi banjir besar yang dahsyat, dan penduduk Atlantis pun mengungsi ke dataran-dataran yang lebih tinggi yang tidak tenggelam oleh bencana tersebut. Itulah sebabnya di beberapa kebudayaan mulai dari timur sampai barat, terdapat mitos-mitos yang sejenis dengan kisah perahu Nabi Nuh. Kenapa bisa ada berbagai mitos sejenis dengan kisah perahu Nabi Nuh pada berbagai peradaban di dunia pada masa lalu? Kemungkinan besar karena memang mitos itu berasal satu “kejadian yang sama” dari satu kebudayaan dan tempat yang sama.
“Setelah negeri Atlantis tenggelam, maka penduduk Atlantis itu pun mengungsi ke daerah yang lebih tinggi yang sekarang kita kenal dengan Amerika, India, Eropa, Australia, Cina, dan Timur Tengah. Mereka membawa ilmu pengetahuan-teknologi dan kebudayaan Atlantis ke daerah yang baru.”
Di kalangan para Spiritualis, termasuk Madame Blavitszki — pendiri Teosofi — yang mengklaim bahwa ajarannya berasal dari seorang “bijak” dari benua Lemuria di India. Di dalam kebudayaan Lemuria, spiritualitasnya didasari oleh sifat feminin, atau mereka lebih memuja para dewi sebagai simbol energi feminin, ketimbang memuja para dewa sebagai simbol energi maskulin.
Hal ini cocok dengan spiritualitas di Indonesia yang pada dasarnya memuja dewi atau energi feminin, seperti Dwi Sri dan Nyi Roro Kidul (di Jawa) atau Bunda Kanduang (di Sumatera Barat, Bunda Kanduang dianggap sebagai simbol dari nilai-nilai moral dan Ketuhanan). Bahkan di Aceh pada masa lalu yang dikenal sebagai Serambi Mekkah pernah dipimpin 5 kali oleh Sultana (raja perempuan) sebelum masuk pengaruh kebudayaan dari Arab yang sangat maskulin. Sebelum itu di kerajaan Kalingga, di daerah Jawa Barat/Jawa Tengah sekarang, pernah dipimpin oleh Ratu Sima yang terkenal sangat bijak dan adil. Di dalam kebudayaan lain, kita sangat jarang mendengar bahwa penguasa tertinggi (baik spiritual atau politik adalah perempuan), kecuali di daerah yang sekarang disebut sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Setelah masa Atlantis (Lemuria) ada 5 ras yang berkuasa, yaitu: kulit kuning, merah, coklat, hitam, dan pucat. Pada masa itu kebudayaan yang menonjol adalah kulit merah, jadi kemungkinan besar kebudayaan Indian/Aztec/Maya juga berasal dari Atlantis. Tetapi, kemudian kebudayaan itu mengalami kemunduran dan selanjutnya kebudayaan kulit hitam/coklat di India yang mulai menguasai dunia. Inilah kemungkinan besar jaman kejayaan yang kemudian dikenal menjadi Epos Ramayana (7000 tahun lalu) dan Epos Mahabarata (5000 tahun lalu). Tetapi, kemudian kebudayaan ini pun hancur setelah terjadi perang Baratayuda yang amat dahsyat itu, kemungkinan perang itu menggunakan teknologi laser dan nuklir (sisa radiasi nuklir di daerah yang diduga sebagai padang Kurusetra sampai saat ini masih bisa dideteksi cukup kuat).
Selanjutnya, kebudayaan itu mulai menyebar ke Mesir, Mesopotamia (Timur Tengah), Cina, hingga ke masa sekarang. Kemungkinan besar setelah perang Baratayuda yang meluluhlantakkan peradaban dunia waktu itu, ilmu pengetahuan dan teknologi (baik spiritual maupun material) tak lagi disebarkan secara luas, tetapi tersimpan hanya pada sebagian kecil kelompok esoteris yang ada di Mesir, India Selatan, Tibet, Cina, Indonesia (khususnya Jawa) dan Timur Tengah. Ilmu Rahasia ini sering disebut sebagai “Alkimia”, yaitu ilmu yang bisa mengubah tembaga menjadi emas (ini hanyalah simbol yang hendak mengungkapkan betapa berharganya ilmu ini, namun juga sangat berbahaya jika manusia tidak mengimbanginya dengan kebijakan spiritual)
Kelompok-kelompok esoteris ini mulai menyadari bahwa mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi saja, tanpa mengembangkan kebajikan spiritual, akan sangat berbahaya bagi peradaban dunia. Itulah sebabnya kelompok-kelompok esoteris ini memulai kerjanya dengan mengembangkan ilmu spiritual seperti tantra, yoga, dan meditasi (tentu saja dengan berbagai versi) untuk meningkatkan Kesadaran dan menumbuhkan Kasih dalam diri manusia. Ajaran-ajaran spiritual inilah yang kemudian menjadi dasar dari berbagai agama di dunia. Sedangkan ilmu pengetahuan dan teknologi disimpan dahulu dan hanya diajarkan kepada orang-orang yang dianggap telah mampu mengembangkan Kesadaran dan Kasih dalam dirinya.
Tetapi, manusia memang mahluk paling ironik dari berbagai spesies yang ada di bumi. Berabad kemudian, ilmu spiritual ini justru berkembang menjadi agama formal yang bahkan menjadi kekuatan politik. Agama justru berkembang menjadi pusat konflik dan pertikaian di mana-mana. Sungguh ironik, ilmu yang tadinya dimaksudkan untuk mencegah konflik, justru menjadi pusat konflik selama berabad-abad. Tetapi, itu bukan salah agama, melainkan para pengikut ajaran agama itulah yang tidak siap memasuki inti agama: spiritualitas.
Pada abad pertengahan di Eropa, masa Aufklarung dan Renaissance, kelompok-kelompok esoteris ini mulai bergerak lagi. Kali ini mereka mulai menggunakan media yang satunya lagi — ilmu pengetahuan dan teknologi — untuk mengantisipasi perkembangan agama yang sudah cenderung menjadi alat politis dan sumber konflik antar bangsa dan peradaban. Ilmu pengetahuan dan teknologi yang selama ini disimpan mulai diajarkan secara lebih luas. Kita mengenal tokoh-tokoh seperti Leonardo Da Vinci, Dante Alegheri, Copernicus, Galelio Galilae, Bruno, Leibniz, Honore de Balzac, Descartes, Charles Darwin bahkan sampai ke Albert Einstein, T.S. Elliot, dan Carl Gustave Jung adalah tokoh-tokoh ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni modern yang berhubungan — kalau tidak bisa dikatakan dididik — oleh kelompok-kelompok esoteris ini.
Tetapi, sejarah ironik kembali berkembang, kebudayaan dunia saat ini menjadi sangat materialistis. Ilmu pengetahuan dan teknologi yang seharusnya digunakan untuk “menyamankan” kehidupan sehari-hari manusia, sehingga manusia punya lebih banyak waktu untuk mengembangkan potensi spiritualitas di dalam dirinya, justru menjadi sumber pertikaian dan alat politik. Konflik terjadi di mana-mana. Ribuan senjata nuklir yang kekuatannya 10 – 100 kali lebih kuat dari bom yang dijatuhkan di Hirosima dan Nagasaki pada tahun 1945, kini ada di bumi, dan dalam hitungan detik siap meluluhlantakkan spesies di bumi.
Belum lagi eksploitasi secara membabi buta terhadap alam yang menyebabkan kerusakan lingkungan dan pemanasan global di mana-mana. Menurut para ahli, hutan di bumi saat ini dalam jangka seratus tahun telah berkurang secara drastis tinggal 15%. Ini punya dampak pada peningkatan efek rumah kaca yang menimbulkan pemanasan global, diperkirakan kalau manusia tidak secara bijak bertindak mengatasi kerusakan lingkungan ini, maka 30 sampai 50 tahun lagi, sebagian besar kota-kota di dunia akan tenggelam, termasuk New York City, Tokyo, Rio De Jenero, dan Jakarta. Dan sejarah tenggelamnya negeri Atlantis akan terulang kembali.
Jaman ini adalah jaman penentuan bagi kebudayaan “Lemuria” atau “Atlantis” yang ada di bumi. Pada saat ini dua akar konflik, yaitu “agama” dan “materialisme” telah bersekutu dan saling memanfaatkan satu sama lain serta menyebarkan konflik di muka bumi. Agama menjadi cenderung dogmatik, formalistik, fanatik, dan anti-human persis seperti perkembangan agama di Eropa dan timur tengah sebelum masa Aufklarung. Esensi agama, yaitu spiritualitas yang bertujuan untuk mengembangkan Kesadaran dan Kasih dalam diri manusia, malah dihujat sebagai ajaran sesat, bid’ah, syirik, dll. Agama justru bersekutu kembali dengan pusat-pusat kekuasaan politik, terbukti pada saat ini begitu banyak “partai-partai agama” yang berkuasa di berbagai negara, baik di negara berkembang maupun di negara maju. Di sisi lain perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berlandaskan pada paham materialisme juga sudah terlanjur menguasai dunia. Persekutuan antara kaum agama dan materialisme, atau “agama-materialistik” ini mulai menggejala di mana-mana, berwujud dalam bentuk-bentuk teror yang mengancam dunia.
Sudah saatnya, para spiritualis di “Lemuria” mulai bersatu kembali. Segala pertikaian remeh-temeh tentang materialisme-spiritualistik atau spiritualisme-materialistik harus diselesaikan sekarang. Tugas yang sangat penting tengah menanti, bukan tugas profetik, tetapi tugas yang benar-benar menyangkut keberlangsungan eksistensi seluruh spesies di “Lemuria”, di bumi yang amat indah ini. Tugas ini tidak bisa dikerjakan oleh satu dua orang Buddha atau Nabi atau Wali atau Resi atau Avatar seperti pada masa lalu. Tetapi, seluruh “manusia-biasa” juga harus terlibat di dalam tugas ini.
Jika hipotesis Prof. Santos memang benar, bahwa Atlantis pada masa lalu itu berada di Indonesia, maka hal itu berarti kita yang tinggal di sini punya tugas yang penting. Ini bukan suatu kebetulan. Kita yang tinggal di Indonesia harus bangkit kembali, bangkit Kesadarannya, bangkit Kasihnya, bangkit sains dan teknologinya untuk mengubah jalannya sejarah Lemuria yang selama ini sudah salah arah.
Kejayaan masa lalu bukan hanya untuk dikenang, atau dibanggakan, tetapi harus menjadi “energi-penggerak” kita untuk mengambil tanggung jawab dan tugas demi kejayaan Indonesia dan keberlanjutan peradaban Lemuria beserta seluruh spesies yang ada di bumi ini. Seperti kata Bapak Anand Krishna, dalam bukunya yang bertajuk Indonesia Jaya, “Masa depanmu jauh lebih indah dan jaya daripada masa lalumu, wahai putra-putri Indonesia!” Indonesia Jaya!

5. Kontraversi dan Rekonstruksi OPPENHEIMER
Kontroversi tentang sumber peradaban dunia muncul sejak diterbitkannya
buku Eden The East (1999) oleh Oppenheimer, Dokter ahli genetik yang
banyak mempelajari sejarah peradaban. Ia berpendapat bahwa Paparan
Sunda (Sundaland) adalah merupakan cikal bakal peradaban kuno atau
dalam bahasa agama sebagai Taman Eden. Istilah ini diserap dari kata
dalam bahasa Ibrani Gan Eden. Dalam bahasa Indonesia disebut Firdaus
yang diserap dari kata Persia “Pairidaeza” yang arti sebenarnya adalah
Taman.
Menurut Oppenheimer, munculnya peradaban di Mesopotamia, Lembah Sungai
Indus, dan Cina justru dipicu oleh kedatangan para migran dari Asia
Tenggara. Landasan argumennya adalah etnografi, arkeologi, osenografi,
mitologi, analisa DNA, dan linguistik. Ia mengemukakan bahwa di
wilayah Sundaland sudah ada peradaban yang menjadi leluhur peradaban
Timur Tengah 6.000 tahun silam. Suatu ketika datang banjir besar yang
menyebabkan penduduk Sundaland berimigrasi ke barat yaitu ke Asia,
Jepang, serta Pasifik. Mereka adalah leluhur Austronesia.
Rekonstruksi Oppenheimer diawali dari saat berakhirnya puncak Jaman Es
(Last Glacial Maximum) sekitar 20.000 tahun yang lalu. Ketika itu,
muka air laut masih sekitar 150 m di bawah muka air laut sekarang.
Kepulauan Indonesia bagian barat masih bergabung dengan benua Asia
menjadi dataran luas yang dikenal sebagai Sundaland. Namun, ketika
bumi memanas, timbunan es yang ada di kutub meleleh dan mengakibatkan
banjir besar yang melanda dataran rendah di berbagai penjuru dunia.
Data geologi dan oseanografi mencatat setidaknya ada tiga banjir besar
yang terjadi yaitu pada sekitar 14.000, 11.000, dan 8,000 tahun yang
lalu. Banjir besar yang terakhir bahkan menaikkan muka air laut hingga
5−10 meter lebih tinggi dari yang sekarang. Wilayah yang paling parah
dilanda banjir adalah Paparan Sunda dan pantai Cina Selatan. Sundaland
malah menjadi pulau−pulau yang terpisah, antara lain Kalimantan, Jawa,
Bali, dan Sumatera. Padahal, waktu itu kawasan ini sudah cukup padat
dihuni manusia prasejarah yang berpenghidupan sebagai petani dan
nelayan.
Bagi Oppenheimer, kisah Banjir Nuh atau Benua Atlantis yang
hilang tidak lain adalah rekaman budaya yang mengabadikan fenomena
alam dahsyat ini. Di kawasan Asia Tenggara, kisah atau legenda seperti
ini juga masih tersebar luas di antara masyarakat tradisional, namun
belum ada yang meneliti keterkaitan legenda dengan fenomena Taman
Eden.

6. Prof Arysio Nunes Dos Santos, Ph.D

Kontroversi dari Oppenheimer seolah dikuatkan oleh pendapat Aryso
Santos. Profesor asal Brasil ini menegaskan bahwa Atlantis yang hilang
sebagaimana cerita Plato itu adalah wilayah yang sekarang disebut
Indonesia. Pendapat itu muncul setelah ia melakukan penelitian selama
30 tahun yang menghasilkan buku Atlantis, The Lost Continent Finally
Found, The Definitifve Localization of Plato’s Lost Civilization
(2005). Santos dalam bukunya tersebut menampilkan 33 perbandingan,
seperti luas wilayah, cuaca, kekayaan alam,
gunung berapi, dan cara bertani, yang akhirnya menyimpulkan bahwa
Atlantis itu adalah Sundaland (Indonesia bagian Barat).
Santos menetapkan bahwa pada masa lalu Atlantis merupakan benua yang
membentang dari bagian selatan India, Sri Langka, dan Indonesia bagian
Barat meliputi Sumatra, Kalimantan, Jawa dan terus ke arah timur.
Wilayah Indonesia bagian barat sekarang sebagai pusatnya. Di wilayah
itu terdapat puluhan gunung berapi aktif dan dikelilingi oleh samudera
yang menyatu bernama Orientale, terdiri dari Samudera Hindia dan
Samudera Pasifik.
Argumen Santos tersebut didukung banyak arkeolog Amerika Serikat
bahkan mereka meyakini bahwa benua Atlantis adalah sebuah pulau besar
bernama Sundaland, suatu wilayah yang kini ditempati Sumatra, Jawa dan
Kalimantan. Sekitar 11.600 tahun silam, benua itu tenggelam diterjang
banjir besar seiring berakhirnya zaman es.
Menurut Plato, Atlantis merupakan benua yang hilang akibat letusan
gunung berapi yang secara bersamaan meletus dan mencairnya Lapisan Es
yang pada masa itu sebagian besar benua masih diliputi oleh Lapisan−
lapisan Es. Maka tenggelamlah sebagian benua tersebut.
Santos berpendapat bahwa meletusnya berpuluh−puluh gunung berapi
secara bersamaan tergambarkan pada wilayah Indonesia (dulu). Letusan
gunung api yang dimaksud di antaranya letusan gunung Meru di India
Selatan, letusan gunung berapi di Sumatera yang membentuk Danau Toba,
dan letusan gunung Semeru/Mahameru di Jawa Timur. Letusan yang paling
dahsyat di kemudian hari adalah letusan Gunung Tambora di Sumbawa yang
memecah bagian−bagian pulau di Nusa Tenggara dan Gunung Krakatau
(Krakatoa) yang memecah bagian Sumatera dan Jawa membentuk Selat Sunda
(Catatan : tulisan Santos ini perlu diklarifikasi dan untuk sementara
dikutip di sini sebagai apa yang diketahui Santos).
Berbeda dengan Plato, Santos tidak setuju mengenai lokasi Atlantis
yang dianggap terletak di lautan Atlantik. Ilmuwan Brazil itu
berargumentasi, bahwa letusan berbagai gunung berapi menyebabkan
lapisan es mencair dan mengalir ke samudera sehingga luasnya
bertambah. Air dan lumpur berasal dari abu gunung berapi tersebut
membebani samudera dan dasarnya sehingga mengakibatkan tekanan luar
biasa kepada kulit bumi di dasar samudera, terutama pada pantai benua.
Tekanan ini mengakibatkan gempa. Gempa ini diperkuat lagi oleh gunung−
gunung yang meletus kemudian secara beruntun dan menimbulkan gelombang
tsunami yang dahsyat. Santos menamakannya Heinrich Events. Catatan :
pernyataan Santos ini disajikan seperti apa adanya dan tidak merupakan
pendapat penulis.
Namun, ada beberapa keadaan masa kini yang antara Plato dan Santos
sependapat yakni pertama, bahwa lokasi benua yang tenggelam itu adalah
Atlantis dan oleh Santos dipastikan sebagai wilayah Republik
Indonesia. Kedua, jumlah atau panjangnya mata rantai gunung berapi di
Indonesia, diantaranya ialah: Kerinci, Talang, Krakatoa, Malabar,
Galunggung, Pangrango, Merapi, Merbabu, Semeru, Bromo, Agung, Rinjani.
Sebagian dari gunung itu telah atau sedang aktif kembali.
Dalam usaha mengemukakan pendapat, tampak Plato telah melakukan dua
kekhilafan, pertama mengenai bentuk/posisi bumi yang katanya datar.
Kedua, mengenai letak benua Atlantis yang katanya berada di Samudera
Atlantik yang ditentang oleh Santos. Penelitian oleh para akhli
Amerika Serikat di wilayah Atlantik terbukti tidak berhasil menemukan
bekas−bekas benua yang hilang itu. Oleh karena itu tidaklah semena−
mena ada peribahasa yang berkata, (Amicus Plato, sed magis amica
veritas)? Artinya,? Saya senang kepada Plato tetapi saya lebih
senang kepada kebenaran. ?
Atlantis memang misterius, dan karenanya menjadi salah satu tujuan
utama arkeologi di dunia. Jika Atlantis ditemukan, maka penemuan
tersebut bisa jadi akan menjadi salah satu penemuan terbesar sepanjang
masa.

7. Pandangan dari Aspek Geologis
Pendekatan ilmu geologi untuk mengungkap fenomena hilangnya Benua
Atlantis dan awal peradaban kuno, dapat ditinjau dari dua sudut
pandang yaitu pendekatan tektonik lempeng dan kejadian zaman es.
Wilayah Indonesia dihasilkan oleh evolusi dan pemusatan lempeng
kontinental Eurasia, lempeng lautan Pasifik, dan lempeng Australia
Lautan Hindia (Hamilton, 1979). umumnya disepakati bahwa pengaturan
fisiografi kepulauan Indonesia dikuasai oleh daerah paparan kontinen,
letak daerah Sundaland di barat, daerah paparan Sahul atau Arafura di
timur. Intervensi area meliputi suatu daerah kompleks secara geologi
dari busur kepulauan, dan cekungan laut dalam (van Bemmelen, 1949).
Kedua area paparan memberikan beberapa persamaan dari inti−inti
kontinen yang stabil ke separuh barat dan timur kepulauan. Area
paparan Sunda menunjukkan perkembangan bagian tenggara di bawah
permukaan air dari lempeng kontinen Eurasia dan terdiri dari
Semenanjung Malaya, hampir seluruh Sumatra, Jawa dan Kalimantan, Laut
Jawa dan bagian selatan Laut China Selatan.
Tatanan tektonik Indonesia bagian Barat merupakan bagian dari sistim
kepulauan vulkanik akibat interaksi penyusupan Lempeng Hindia−
Australia di Selatan Indonesia. Interaksi lempeng yang berupa jalur
tumbukan (subduction zone) tersebut memanjang mulai dari kepulauan
Tanimbar sebelah barat Sumatera, Jawa sampai ke kepulauan Nusa
Tenggara di sebelah Timur. Hasilnya adalah terbentuknya busur
gunungapi (magmatic arc).
Dikenal sebagai Sundaland Rekontruksi tektonik lempeng tersebut akhirnya
dapat menerangkan pelbagai gejala geologi dan memahami pendapat Santos,
yang menyakini Wilayah Indonesia memiliki korelasi dengan anggapan Plato yang
menyatakan bahwa tembok Atlantis terbungkus emas, perak, perunggu,
timah dan tembaga, seperti terdapatnya mineral berharga tersebut pada
jalur magmatik di Indonesia. Hingga saat ini, hanya beberapa tempat di
dunia yang merupakan produsen timah utama. Salah satunya disebut
Kepulauan Timah dan Logam, bernama Tashish, Tartessos dan nama lain
yang menurut Santos (2005) tidak lain adalah Indonesia. Jika Plato
benar, maka Atlantis sesungguhnya adalah Indonesia.
Selain menunjukan kekayaan sumberdaya mineral, fenomena tektonik
lempeng tersebut menyebabkan munculnya titik−titik pusat gempa,
barisan gunung api aktif (bagian dari Ring of Fire dunia), dan
banyaknya komplek patahan (sesar) besar, tersebar di Sumatera, Jawa,
Nusa Tenggara dan Indonesia bagian timur. Pemunculan gunungapi aktif,
titik−titik gempa bumi dan kompleks patahan yang begitu besar, seperti
sesar Semangko (Great Semangko Fault membujur dari Aceh sampai teluk
Semangko di Lampung) memperlihatkan tingkat kerawanan yang begitu
besar. Menurut Kertapati (2006), karakteristik gempabumi di daerah
Busur Sunda pada umumnya diikuti tsunami.
Para peneliti masa kini terutama Santos (2005) dan sebagian peneliti
Amerika Serikat memiliki kenyakinan bahwa gejala kerawanan bencana
geologi wilayah Indonesia adalah sesuai dengan anggapan Plato yang
menyatakan bahwa Benua Atlantis telah hilang akibat letusan gunung
berapi yang bersamaan.
Pendekatan lain akan keberadaan Benua Atlantis dan awal peradaban
manusia (hancurnya Taman Eden) adalah kejadian Zaman Es. Pada zaman Es
suhu atau iklim bumi turun dahsyat dan menyebabkan peningkatan
pembentukan es di kutub dan gletser gunung. Secara geologis, Zaman Es
sering digunakan untuk merujuk kepada waktu lapisan Es di belahan bumi
utara dan selatan; dengan definisi ini kita masih dalam Zaman Es.
Secara awam untuk waktu 4 juta tahun ke belakang, definisi Zaman Es
digunakan untuk merujuk kepada waktu yang lebih dingin dengan tutupan
Es yang luas di seluruh benua Amerika Utara dan Eropa.
Penyebab terjadinya Zaman Es antara lain adalah terjadinya proses
pendinginan aerosol yang sering menimpa planet bumi. Dampak ikutan
dari peristiwa Zaman Es adalah penurunan muka laut. Letusan gunung api
dapat menerangkan berakhirnya Zaman Es pada skala kecil dan teori
kepunahan Dinosaurus dapat menerangkan akhir Zaman Es pada skala
besar.
Dari sudut pandang di atas, Zaman Es terakhir dimulai sekitar 20.000
tahun yang lalu dan berakhir kira−kira 10.000 tahun lalu atau pada
awal kala Holocene (akhir Pleistocene). Proses pelelehan Es di zaman
ini berlangsung relatif lama dan beberapa ahli membuktikan proses ini
berakhir sekitar 6.000 tahun yang lalu.
Pada Zaman Es, pemukaan air laut jauh lebih rendah daripada sekarang,
karena banyak air yang tersedot karena membeku di daerah kutub. Kala
itu Laut China Selatan kering, sehingga kepulauan Nusantara barat
tergabung dengan daratan Asia
Tenggara. Sementara itu pulau Papua juga tergabung dengan benua
Australia.
Ketika terjadi peristiwa pelelehan Es tersebut maka terjadi
penenggelaman daratan yang luas. Oleh karena itu gelombang migrasi
manusia dari/ke Nusantara mulai terjadi. Walaupun belum ditemukan
situs pemukiman purba, sejumlah titik diperkirakan sempat menjadi
tempat tinggal manusia purba Indonesia sebelum mulai menyeberang selat
sempit menuju lokasi berikutnya (Hantoro, 2001).
Tempat−tempat itu dapat dianggap sebagai awal pemukiman pantai di
Indonesia. Seiring naiknya paras muka laut, yang mencapai puncaknya
pada zaman Holosen ± 6.000 tahun dengan kondisi muka laut ± 3 m
lebih tinggi dari muka laut sekarang, lokasi−lokasi tersebut juga
bergeser ke tempat yang lebih tinggi masuk ke hulu sungai.
Berkembangnya budaya manusia, pola berpindah, berburu dan meramu
(hasil) hutan lambat laun berubah menjadi penetap, beternak dan
berladang serta menyimpan dan bertukar hasil dengan kelompok lain.
Kemampuan berlayar dan menguasai navigasi samudera yang sudah lebih
baik, memungkinkan beberapa suku bangsa Indonesia mampu menyeberangi
Samudra Hindia ke Afrika dengan memanfaatkan pengetahuan cuaca dan
astronomi. Dengan kondisi tersebut tidak berlebihan Oppenheimer
beranggapan bahwa Taman Eden berada di wilayah Sundaland.
Taman Eden hancur akibat air bah yang memporak porandakan dan mengubur
sebagian besar hutan−hutan maupun taman−taman sebelumnya. Bahkan
sebagian besar dari permukaan bumi ini telah tenggelam dan berada
dibawah permukaan laut, Jadi pendapat Oppenheimer memiliki kemiripan
dengan akhir Zaman Es yang menenggelamkan sebagian daratan Sundaland.

8. Pandangan dari Aspek Ethnogeneses dan Arkeologi

International Symposium on The Dispersal of
Austronesian and the Ethnogeneses of the People in Indonesia
Archipelago, 28-30 Juni 2005 yang lalu. Salah satu tema dalam gelaran
tersebut menyangkut banyak temuan penting soal penyebaran dan asal
usul manusia dalam dua dekade terakhir. Salah satu temuan penting
dari hasil penelitian yang dipresentasikan dalam simposium tersebut
adalah hipotesa adanya sebuah pulau yang sangat besar terletak di Laut
Cina Selatan yang kemudian tenggelam setelah Zaman Es.
Menurut Jenny (2005), hipotesa itu berdasarkan pada kajian ilmiah
seiring makin mutakhirnya pengetahuan tentang arkeologi molekuler.
Salah satu pulau penting yang tersisa dari benua Atlantis jika memang
benar, adalah Pulau Natuna, Riau. Berdasarkan kajian biomolekuler,
penduduk asli Natuna diketahui memiliki gen yang mirip dengan bangsa
Austronesia tertua. Bangsa Austronesia diyakini memiliki tingkat
kebudayaan tinggi, seperti bayangan tentang bangsa Atlantis yang
disebut-sebut dalam mitos Plato.
Ketika Zaman Es berakhir, yang ditandai tenggelamnya ‘benua Atlantis’,
bangsa Austronesia menyebar ke berbagai penjuru. Mereka lalu
menciptakan keragaman budaya dan bahasa pada masyarakat lokal yang
disinggahinya. Dalam tempo cepat yakni pada 3.500 sampai 5.000 tahun
lampau kebudayaan ini telah menyebar. Kini rumpun Austronesia
menempati separuh muka bumi.
Dari berbagai pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa asal usul
Taman Eden (manusia modern) dan hilangnya benua Atlantis sangat
berkaitan dengan kondisi geologi khususnya aktivitas tektonik lempeng
dan peristiwa Zaman Es. Perubahan iklim yang drastik di dunia,
menyebabkan berubahnya muka laut, kehidupan binatang dan
tumbuh-tumbuhan.
Zaman Es memberi ruang yang besar kepada perkembangan peradaban
manusia yang amat besar di Sundaland. Pada saat itu suhu bumi amat
dingin, kebanyakan air dalam keadaan membeku dan membentuk glasier.
Oleh karena itu kebanyakan kawasan bumi tidak sesuai untuk didiami
kecuali di kawasan khatulistiwa yang lebih panas.
Diantara kawasan ini adalah wilayah Sundaland dan Paparan Sahul serta
kawasan di sekitarnya yang memiliki banyak gunung api aktif yang
memberikan kesuburan tanah. Dengan demikian keduanya memiliki tingkat
kenyamanan tinggi untuk berkembangnya peradaban manusia.
Adapun wilayah lainnya tidak cukup memiliki kenyamanan berkembangnya
peradaban, karena semua air dalam keadaan membeku yang membentuk
aapisan es yang tebal. Akibatnya, muka laut turun hingga 200 kaki
dari muka laut sekarang.
Wilayah Sundaland yang memiliki iklim tropika dan memiliki kondisi
tanah subur, menunjukkan tingkat keleluasaan untuk didiami.
Kemungkinan pusat peradaban adalah berada antara Semenanjung Malaysia
dan Kalimantan, tepatnya sekitar Kepulauan Natuna (sekitar laut China
Selatan) atau pada Zaman Es tersebut merupakan muara Sungai yang
sangat besar yang mengalir di Selat Malaka menuju laut China Selatan
sekarang. Anak-anak sungai dari sungai raksasa tersebut adalah
sungai-sungai besar yang berada di Pulau Sumatera, dan Pulau
Kalimantan bagian Barat dan Utara.
Kemungkinan kedua adalah Muara Sungai Sunda yang mengalir di Laut Jawa
menuju Samudera Hindia melalui Selat Lombok. Hulu dan anak-anak sungai
terutama berasal dari Sumatera bagian Selatan, seluruh Pulau Jawa, dan
Pulau kalimantan bagian Selatan.
Oleh karena itu klaim bahwa awal peradaban manusia berada di wilayah
Mediterian patut dipertanyakan. Sebab pada masa itu kondisi iklim
sangat dingin dan beku, lapisan salju di wilayah Eropa dapat
menjangkau hingga 1 km tebalnya dari permukaan bumi. Keadaan di Eropa
dan Mesir pada masa itu adalah sama seperti apa yang ada di kawasan
Artik dan Antartika sekarang ini.
Kawasan Sundaland pada saat itu walaupun memiliki suhu paling dingin
sekalipun, tetap dapat didiami dan menjadi kawasan bercocok tanam
kerena terletak di sekitar garisan khatulistiwa. Lebih menarik lagi,
dengan muka laut yang lebih rendah, pada masa itu Sundaland adalah
satu daratan benua yang menyatu dengan Asia dan terbentang membentuk
kawasan yang amat luas dan datar. Apabila bumi menjadi semakin panas
dan sebagian daratan Sundaland tenggelam daerah ini tetap dapat
didiami dan tetap subur.
Di sisi lain kenyamanan iklim dan potensi sumberdaya alam yang
dimiliki wilayah Sundaland, juga dibayangi oleh kerawanan bencana
geologi yang begitu besar akibat pergerakan lempeng benua seperti yang
dirasakan saat ini. Kejadian gempabumi, letusan gunung api, tanah
longsor dan tsunami yang terjadi di masa kini juga terjadi di masa
lampau dengan intensitas yang lebih tinggi seperti letusan Gunung
Toba, Gunung Sunda dan gunung api lainnya yang belum terungkap dalam
penelitian geologi.
Instansi yang terkait diharapkan dapat berperan menangkap peluang
dalam mengembangkan ilmu pengetahuan untuk mengungkap fenomena
Sundaland sebagai Benua Atlantis yang hilang maupun sebagai Taman
Eden. Paling tidak peranan instansi tersebut dapat memperoleh
temuan-temuan awal (hipothesis) yang mampu mengundang minat penelitian
dunia untuk melakukan riset yang komprehensif dan berkesinambungan..
Keberhasilan langkah upaya mengungkap suatu fenomena alam akan membuka
peluang pengembangan berbagai sektor diantaranya adalah sektor
pariwisata. Kemampuan manajemen kepariwisataan yang baik, suatu
kegiatan penelitian berskala internasional artinya hipotesis
penelitian yang dibangun dapat mempengaruhi wilayah dunia lainnya,
akan berpotensi menjadi kegiatan wisata ilmiah yang dapat
menghasilkan devisa negara andalan dan basis ekonomi masyarakat
seperti yang telah dinikmati oleh Mesir, Yunani, Cyprus dll.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s