SEKOLAH TINGGI ILMU ADMINISTRASI (STIA) AMUNTAI

LEGENDA ATLANTIS PART 3 (Kumpulan Tulisan yang tidak setuju Sundaland sebagai Benua Atlantis)


Bagian ke tiga sebagai bagian terakhir legenda Atlantis ini, kita ingin mengumpulkan berbagai tulisan yang berpandangan sebaliknya, yaitu membantah bahwa wilayah Asia Tenggara dan Indonesia pada khususnya merupakan bagian dari benua dan peradaban atlantis itu, diantaranya pendapat geolog dari BP Migas, Awang Satyana, dan tulisan Budi Brahmantyo di Harian Pikiran Rakyat, juga serta Laporan Hasil Seminar tentang Atlantis yg diadakan oleh PT Ufuk
Publishing House Di gedung auditorium Museum Indonesia TMII, Jakarta, pada Sabtu 20 Februari 2010. Tulisan-tulisan tersebut pada intinya meragukan tentang bukti-bukti dan argumentasi yang dikembangkan oleh Prof Santos bahwa Asia Tenggara khususnya Indonesia merupakan Benua yang hilang tersebut.

1. Awang Satyana
Sumber : From: Awang Satyana
Date: Mon, 1 Feb 2010 11:48:07
To:
Cc: Forum HAGI; Geo Unpad;
Eksplorasi BPMIGAS
Subject: Bls: [iagi-net-l] Atlantis! Surga yang Hilang Itu Adalah Indonesia

Akhir November 2009 yang lalu, saya diberi buku ini oleh penerbitnya
(penerjemah) di Indonesia (PT Ufuk Press, Jakarta) untuk membahasnya dalam
acara bedah buku yang diadakan oleh Fakultas Teknik Geologi Universitas
Padjadjaran. Acara diadakan di Auditorium Badan Geologi di Jl. Diponegoro,
Bandung, dihadiri para mahasiswa geologi, para dosen geologi, para ahli
geologi, dan masyarakat umum yang tertarik dengan isyu ini.
Dari Ufuk Press, hadir beberapa perwakilannya.
Buku terjemahannya enak dibaca, dicetak sesuai dengan tampilan aslinya. Saat
itu buku terjemahan ini belum diedarkan, tetapi saya punya karena langsung
diberi oleh penerbitnya, gratis lagi he2…
Meskipun begitu, setelah mempelajarinya cukup detail dan membandingkannya
dengan ilmu geologi yang saya tekuni, saya tidak sepakat dengan hipotesis Prof.
Santos (alm.) bahwa Indonesia (tepatnya Sundaland) adalah Atlantis yang hilang
itu. Argumen-argumen mengapa hipotesis ini tidak bernalar secara geologi
(mainstream geology) saya kemukakan di forum bedah buku tersebut.
Di luar dugaan saya, ternyata PT Ufuk Press gembira mengapa saya menyerang buku
yang diterjemahkannya itu dan diberikannya secara gratis kepada saya. Rupanya,
Ufuk suka menerjemahkan buku-buku yang kontroversial. Pada kesempatan yang
sama, saya juga diminta membahas secara geologi buku “Misteri 2012” (Greg
Braden dkk.) yang juga kontroversial dan diterjemahkan oleh PT Ufuk Press. Bila
buku2-nya kontroversial, biasanya akan meramaikan pasar, katanya. Hm..
Berikut adalah beberapa antitesis yang saya kemukakan sebagai keberatan2 atas
hipotesis Prof. Santos bahwa Indonesia adalah Atlantis.
Prof. Arysio Santos (AS) : Atlantis berasal dari bahasa Sanskrit Atala, yang
berarti surga atau menara peninjauan (watch tower), Atalaia (Potugis), Atalaya
(Spanyol).
Awang H. Satyana (AHS) : Atlantis berasal dari bahasa Yunani : Ἀτλαντὶς νῆσος,
“island of Atlas”
AS : Lokasi Atlantis yang hilang sejak kira-kira 11.600 tahun yang lalu (9600
BC) itu adalah di Indonesia dan Laut Cina Selatan (tepatnya Sundaland).
Atlantis merupakan benua yang membentang dari bagian selatan India, Sri Lanka,
Sumatra, Jawa, Kalimantan, terus ke arah timur dengan Indonesia (yang sekarang)
sebagai pusatnya.
AHS : India, Srilangka, Laut Cina Selatan dan Indonesia Timur bukan bagian
Sundaland. Laut Cina Selatan bukan paparan benua yang tenggelam.
AS : Teori Plato menerangkan bahwa Atlantis merupakan benua yang hilang akibat
letusan gunung berapi yang secara bersamaan meletus. Pada masa itu sebagian
besar bagian dunia masih diliput oleh lapisan-lapisan es (era Pleistosen) .
AHS : Atlantis sank into the ocean “in a single day and night of misfortune”.
(Plato, 360 BC : Timaeus & Critias), bukan gradual akibat deglasiasi.
AS : Dengan meletusnya berpuluh-puluh gunung berapi secara bersamaan yang
sebagian besar terletak di wilayah Indonesia (dulu) itu, maka tenggelamlah
sebagian benua dan diliput oleh air asal dari es yang mencair. Di antaranya
letusan gunung Meru di India Selatan dan gunung Semeru/Sumeru/ Mahameru di Jawa
Timur. Lalu letusan gunung berapi di Sumatera yang membentuk Danau Toba dengan
pulau Samosir, yang merupakan puncak gunung yang meletus pada saat itu. Letusan
yang paling dahsyat di kemudian hari adalah gunung Krakatau (Krakatoa) yang
memecah bagian Sumatera dan Jawa dan lain-lainnya serta membentuk selat dataran
Sunda.
AHS : Supervolcano Toba meletus pada 74.000 tahun yang lalu, jauh lebih awal
daripada masa Atlantis 11.600 tyl. Tidak ada bukti bahwa Krakatau pernah
meletus pada 11.600 tyl.
AS : Dengan meletusnya berpuluh-puluh gunung berapi secara bersamaan yang
sebagian besar terletak di wilayah Indonesia (dulu) itu, maka tenggelamlah
sebagian benua dan diliput oleh air asal dari es yang mencair. Di antaranya
letusan gunung Meru di India Selatan dan gunung Semeru/Sumeru/ Mahameru di Jawa
Timur. Lalu letusan gunung berapi di Sumatera yang membentuk Danau Toba dengan
pulau Samosir, yang merupakan puncak gunung yang meletus pada saat itu. Letusan
yang paling dahsyat di kemudian hari adalah gunung Krakatau (Krakatoa) yang
memecah bagian Sumatera dan Jawa dan lain-lainnya serta membentuk selat dataran
Sunda.
AHS : Letusan supervolcano lebih mungkin menyebabkan musim dingin karena abu
volkanik menutupi atmosfer menghalangi sinar Matahari (Tambora 1815 : a year
without a summer), bukan mencairkan es.
AS : Pada saat terjadinya letusan berbagai gunung berapi itu, menyebabkan
lapisan es mencair dan mengalir ke samudera sehingga luasnya bertambah. Air dan
lumpur berasal dari abu gunung berapi tersebut membebani samudera dan dasarnya,
mengakibatkan tekanan luar biasa kepada kulit bumi di dasar samudera, terutama
pada pantai benua. Tekanan ini mengakibatkan gempa. Gempa ini diperkuat lagi
oleh gunung-gunung yang meletus kemudian secara beruntun dan menimbulkan
gelombang tsunami yang dahsyat.
AHS : Gempa tidak disebabkan beban sedimen dan air pada dasar samudera, bila
begitu maka pusat-pusat gempa akan memenuhi seluruh samudera. Gempa disebabkan
patahan batuan pada wilayah interaksi lempeng.
AS : Ukuran waktu yang diberikan Plato 11.600 tahun BP (Before Present), secara
tepat bersamaan dengan berakhirnya Zaman Es Pleistocene, yang juga menimbulkan
bencana banjir dan gempa yang sangat hebat.
AHS : Studi detail masalah late glacial & postglacial sea level rise untuk
Sundaland menggunakan isotop oksigen-18 menunjukkan bahwa penenggelaman
Sundaland oleh naiknya muka laut terjadi pada periode antara 13.000 – 14.000
tahun BP.
AS : Abu hasil letusan gunung Krakatau yang berupa ‘fly-ash’ naik tinggi ke
udara dan ditiup angin ke seluruh bagian dunia yang pada masa itu sebagian
besar masih ditutup es (Zaman Es Pleistocene) . Abu ini kemudian turun dan
menutupi lapisan es. Akibat adanya lapisan abu, es kemudian mencair sebagai
akibat panas matahari yang diserap oleh lapisan abu tersebut. Gletser di kutub
Utara dan Eropah kemudian meleleh dan mengalir ke seluruh bagian bumi yang
rendah, termasuk Indonesia. Banjir akibat tsunami dan lelehan es inilah yang
menyebabkan air laut naik sekitar 130 meter diatas dataran rendah Indonesia.
Dataran rendah di Indonesia tenggelam dibawah muka laut, dan yang tinggal
adalah dataran tinggi dan puncak-puncak gunung berapi.
AHS : Fly ash berasal dari erupsi supervolcano akan menyebabkan musim dingin
volkanik, sinar Matahari tak akan mencapai permukaan Bumi. Tidak ada es yang
mencair. Studi detail glasiasi dan post-glasial menunjukkan maksimum air laut
naik 16 m selama 300 tahun dari 14.600-14.300 tyl oleh proses perubahan iklim.
AS : Ketika bencana yang diceritakan diatas terjadi, dimana air laut naik
setinggi kira-kira 130 meter, penduduk Atlantis yang selamat terpaksa keluar
dan pindah ke India, Asia Tenggara, China, Polynesia, dan Amerika. Suku Aryan
yang bermigrasi ke India mula-mula pindah dan menetap di lembah Indus. Karena
glacier Himalaya juga mencair dan menimbulkan banjir di lembah Indus, mereka
bermigrasi lebih lanjut ke Mesir, Mesopotamia, Palestin, Afrika Utara, dan Asia
Utara. Di tempat-tempat baru ini mereka kemudian berupaya mengembangkan kembali
budaya Atlantis yang merupakan akar budaya mereka.
AHS : Penelitian biomolekuler DNA menunjukkan arus migrasi bukan dari Sundaland
ke luar, tetapi dari luar menuju Sundaland.
Saya mengakhiri bedah buku dengan menyimpulkan yang saya percayai dan yakini,
seperti di bawah ini.
Tesis-tesis yang diajukan Prof. Santos dalam bukunya “Atlantis : the Lost
Continent Finally Found” (2005) tidak mempunyai bukti dan argumentasi geologi.
Sundaland adalah paparan benua stabil yang tenggelam pada 15.000 – 11.000 tahun
yang lalu oleh proses deglasiasi akibat siklus perubahan iklim, bukan oleh
erupsi volkanik. Erupsi supervolcano justru akan menyebabkan musim dingin dalam
jangka panjang.
Tidak ada bukti letusan supervolcano Krakatau pada 11.600 tahun yang lalu.
Letusan tertua Krakatau yang dapat diidentifikasi adalah pada tahun 460 AD.
Gempa, erupsi volkanik dan tsunami tidak pernah disebabkan beban sedimen dan
air laut pada dasar samudera, tetapi akibat interaksi lempeng-lempeng tektonik.
Migrasi manusia Indonesia (Sundaland) ke luar setelah penenggelaman Sundaland,
bertolak belakang dengan bukti-bukti penelitian migrasi manusia modern secara
biomolekuler.
Karena mekanisme-mekanisme geologi yang diajukan Prof. Santos tidak mempunyai
nalar geologi yang benar, maka sangat diragukan bahwa Indonesia (Sundaland)
merupakan benua Atlantis.
Terakhir, saya menginformasikan kepada Penerbit Ufuk yang disambutnya dengan
gembira, bahwa ada buku lain yang kontroversial yang menyangkut Indonesia,
tulisan Stephen Oppenheimer : “Garden in the East”, yang mengatakan hal yang
mungkin bisa mendukung hipotesis Prof. Santos, bahwa Sundaland adalah Taman
Firdaus itu. Buku ini kontroversial dan telah meyulut api perdebatan di antara
para ahli genetika dan antropologi. Buku ini pernah saya ulas secara geologi di
milis ini.

2. Budi Brahmantyo di Harian Pikiran Rakyat,
a. Tulisan Bagian pertama
Tulisan saya di Harian Umum Pikiran Rakyat (7 Okt 2006: Sundaland = Benua Atlantis yang Hilang? ) membantah artikel di harian yang sama yang ditulis oleh Prof. Dr. H. Priyatna Abdurrasyid, Ph.D (2 Okt 2006) dengan judul “Benua Atlantis itu (Ternyata) Indonesia.” Prof. Priyatna tersanjung karena Indonesia dinyatakan sebagai benua Atlantis yang hilang menurut pendapat Profesor Brasil Arysio Santos melalui bukunya yang terbit pada 2005: “Atlantis: the Lost Continent Finally Found”. Akhirnya buku yang dijadikan acuan Prof. Priyatna untuk artikelnya itu, baru diterbitkan dalam bahasa Indonesia oleh Penerbit Ufuk pada tahun 2009 dan mulai diedarkan di awal 2010 ini.
Ketika pada tahun 2006 menulis artikel di PR itu, saya terus terang belum membaca bukunya Prof. Santos. Namun demikian saya berani membantah karena saya telah menduga sebelumnya bahwa mestinya bukti-bukti Indonesia sebagai Atlantis didasarkan pada temuan-temuan di bidang geologi dan arkeologi.
Dari sudut pandang dan temuan-temuan geologi dan arkeologi itulah sebenarnya telah sangat jelas bahwa penenggelaman Sundaland (yang menurut Prof Santos menjadi inti Atlantis di Indonesia) tidak terjadi dalam satu malam, waktu penenggelaman seperti diungkapkan Plato. Penenggelaman paparan luas itu terjadi secara evolutif memakan waktu ribuan tahun. Itupun bukan oleh suatu gempa bumi yang diikuti tsunami raksasa, tetapi akibat perubahan iklim berupa pemanasan global dari zaman es ke zaman antar es.
Dari sisi arkeologi, ketika Atlantis diperkirakan oleh Plato berjaya sampai sekitar 10.000 tahun yang lalu, kebudayaan Indonesia purba tidaklah semaju seperti yang digambarkan oleh Plato. Kehidupan purbakala saat itu masih berada pada Zaman Paleolitik. Masyarakatnya hidup terutama dari berburu dengan hanya menggunakan bahan-bahan alam dari batu, tulang, atau kayu/bambu. Hidup mereka diduga tinggal di tepi-tepi sungai dengan tempat berteduh sederhana dari ranting-ranting pohon, atau di gua-gua alami. Bandingkan di waktu yang sama, bangsa Mesir telah berperadaban tinggi, di antaranya sudah sanggup membuat piramid.
Setelah saya mendapatkan dan membaca buku itu dalam versi Bahasa Indonesia, rupanya kedua alasan kuat di atas dibantah habis oleh Prof. Santos. Tadinya saya pikir Prof. Santos akan berargumen dengan temuan-temuan baru geologis dan arkeologis di Indonesia. Namun alasannya rupanya lebih didasarkan argumen-argumen mitologi dan kebetulan-kebetulan atau kesamaan linguistik. Peta-peta dan buku-buku kuno Ramayana, Mahabarata, Iliad, dll. serta dongeng-dongeng yang tersebar di seantero dunia dari tradisi Yahudi Kuno, Kristiani Awal, kepercayaan-kepercayaan pagan yang menyembah berhala, adalah referensi untuk menyatakan argumennya bahwa akhirnya benua Atlantis yang hilang telah ditemukan (di Indonesia), seperti judul bukunya.
Begitupun alasan-alasan dari sisi geologi sama sekali tidak mendasar. Akhir Atlantis menurut Santos adalah letusan dahsyat G. Krakatau (Proto Krakatau) pada 11.600 tahun lalu, yang di geologi tidak pernah ada catatan penentuan umur produk letusan itu. Krakatau dianggap Pilar Herkules yang sesungguhnya dengan pendamping G. Dempo di Sumatera Selatan yang di geologi catatan tentang letusan G. Dempo sangatlah miskin dan juga belum pernah diketahui meletus dahsyat. Akhirnya Prof Santos menggunakan argumen letusan Toba 74.000 tahun lalu yang jelas tidak cocok dengan berakhirnya Atlantis yang menurut Prof. Santos sendiri berakhir 11.600 tahun yang lalu.
Pada awal-awal buku, saya sudah kehilangan selera untuk menamatkannya dengan argumen-argumen yang sangat tidak berdasar tersebut. Apalagi, pengakuannya bahwa penemuan Atlantis di Indonesia itu setelah melakukan riset selama 30 tahun, tetapi belum sekali pun Prof. Santos mengunjungi Indonesia.
Sebagai seorang doktor fisika nuklir (dan geolog? Seperti tertulis di sampul buku versi Bahasa Indonesia) — hasil dari penelusuran di internet — ternyata karya tulis Prof. Santos hanya di seputar Atlantis saja (yang jelas semua argumennya tidak mengacu kepada bidang fisika nuklir). Benar-benar hanya pakar Atlantologi rupanya.
Dan ini… Satu hal yang semakin meragukan lagi adalah bahwa di daftar referensinya ternyata tidak ada satu pun sekali lagi TIDAK SATU PUN mengacu pada literatur tentang geologi dan arkeologi Indonesia. Padahal telah sangat berjibun referensi tentang geologi, arkeologi, mitologi, sejarah, antropologi, dan lain sebagainya tentang Paparan Sunda, Sundaland, atau Indonesia, baik yang ditulis peneliti-peneliti Indonesia dalam bahasa Inggeris maupun mancanegara/internasional. Misalnya buku paling lengkap membahas prasejarah Indonesia oleh Peter Bellwood (Prehistory of the Indo-Malaysian Archipelago, 1985; edisi Bahasa Indonesia diterbitkan Gramedia, 2000) sama sekali tidak dirujuk.
Saya tidak sendiri membantah Prof. Santos. Berikut saya kutipkan juga pendapat geolog dari BP Migas, Awang Satyana, yang pengetahuan tentang geologinya sangat luar biasa. Pak Awang sempat didaulat untuk bedah buku Prof. Santos itu di akhir November 2009. Kutipan ini saya copy dari postingnya di milis iagi.net yang sangat panjang dan saya salin bagian resumenya saja sebagai berikut:
Tesis-tesis yang diajukan Prof. Santos dalam bukunya “Atlantis: the Lost Continent Finally Found” (2005) tidak mempunyai bukti dan argumentasi geologi. Sundaland adalah paparan benua stabil yang tenggelam pada 15.000 – 11.000 tahun yang lalu oleh proses deglasiasi akibat siklus perubahan iklim, bukan oleh erupsi volkanik. Erupsi supervolcano justru akan menyebabkan musim dingin dalam jangka panjang.
Tidak ada bukti letusan supervolcano Krakatau pada 11.600 tahun yang lalu. Letusan tertua Krakatau yang dapat diidentifikasi adalah pada tahun 460 AD. Gempa, erupsi volkanik dan tsunami tidak pernah disebabkan beban sedimen dan air laut pada dasar samudera, tetapi akibat interaksi lempeng-lempeng tektonik.
Migrasi manusia Indonesia (Sundaland) ke luar setelah penenggelaman Sundaland, bertolak belakang dengan bukti-bukti penelitian migrasi manusia modern secara biomolekuler.
Karena mekanisme-mekanisme geologi yang diajukan Prof. Santos tidak mempunyai nalar geologi yang benar, maka sangat diragukan bahwa Indonesia (Sundaland) merupakan benua Atlantis.
Memang, akhirnya buku Prof Santos hanyalah buku yang penuh argumen yang tidak berdasarkan kepada temuan ilmiah. Seperti diungkapkan oleh Thomas Djamaluddin, peneliti/astronom dari LAPAN di http://nasional.vivanews.com/news/read/100793-ilmuwan_indonesia__atlantis_itu_pseudoscience, pendapat Santos hanya akan menjadi pseudoscience yang seolah-olah seperti sains tetapi cara pengungkapannya lebih hanya kepada opini-opini penulis sendiri yang didasarkan pada mitos dan legenda, dan tidak didukung bukti-bukti geologi atau arkeologi yang meyakinkan.
Hal itu, bagi saya, membuat penilaian pada buku Prof. Santos (yang telah meninggal dunia) menjadi sangat – sangat negatif dan meragukan. Akhirnya, buku yang sangat tebal ini menjadi begitu membosankan dengan argumen-argumen yang tidak masuk akal dan dipaksakan untuk cocok alias dicocok-cocokkan. Baru di buku inilah saya begitu banyak membuat coretan, catatan pinggir, dan catatan kaki.
B. Tulisan Bagian ke-dua.
Setelah tulisan saya, dengan argumen geologis-arkeologis, di Harian Pikiran Rakyat Sabtu 7 Oktober 2006 yang menafikan pendapat bahwa benua mitos Atlantis adalah di Indonesia dan menolak pendapat seorang Brasil Profesor Arysio Nunes dos Santos dalam bukunya berjudul “Atlantis, The Lost Continent Finally Found, The Definitive Localization of Plato’s Lost Civilization” yang menyatakan bahwa Atlantis adalah Indonesia, masih banyak komentar (bahkan yakin) bahwa benua Atlantis adalah Indonesia, tepatnya Sundaland (paparan Sunda).
Di bawah ini saya kutipkan 24 syarat Atlantis (di mana saja di seluruh dunia) hasil kesepakatan para peneliti Atlantis dari 15 negara yang berkumpul di Pulau Milos, Yunani, dari 11 hingga 13 Juli 2005. Mereka bertukar pikiran mengenai keberadaan Benua Atlantis.
Selama konferensi dengan judul “Hipotesis Atlantis – Mencari Benua yang Hilang”, para spesialis dalam bidang arkeologi, geologi, volkanologi dan ilmu-ilmu lain memperesentasikan pandangannya tentang keberadaan Atlantis, waktu menghilangnya, penyebabnya, dan kebudayaannya.
Berdasarkan kepada tulisan Plato, peserta konferensi akhirnya setuju pada 24 kriteria yang secara geografis harus memenuhi persyaratan keberadaan lokasi Atlantis, yaitu:
1. Metropolis Atlantis harus terletak di suatu tempat yang tanahnya pernah ada atau sebagian masih ada.
2. Metropolis Atlantis harus mempunyai morfologi yang jelas berupa selang-seling daratan dan perairan yang berbentuk cincin memusat.
3. Atlantis harus berada di luar Pilar-pilar Hercules.
4. Metropolis Atlantis lebih besar dari Libya dan Anatolia, dan Timur Tengah dan Sinai (gabungan).
5. Atlantis harus pernah dihuni oleh masyarakat maju/beradab/cerdas (literate population) dengan ketrampilan dalam bidang metalurgi dan navigasi.
6. Metropolis Atlantis harus secara rutin dapat dicapai melalui laut dari Athena.
7. Pada waktu itu, Atlantis harus berada dalam situasi perang dengan Athena.
8. Metropolis Atlantis harus mengalami penderitaan dan kehancuran fisik parah yang tidak terperikan (unprecedented proportions).
9. Metropolis Atlantis harus tenggelam seluruhnya atau sebagian di bawah air.
10. Waktu kehancuran Metropolis Atlantis adalah 9000 tahun Mesir, sebelum abad ke-6 SM.
11. Bagian dari Atlantis berada sejauh 50 stadia (7,5 km) dari kota.
12. Atlantis padat penduduk yang cukup untuk mendukung suatu pasukan besar (10.000 kereta perang, 1.200 kapal, 1.200.000 pasukan)
13. Ciri agama penduduk Atlantis adalah mengurbankan banteng-banteng.
14. Kehancuran Atlantis dibarengi oleh adanya gempa bumi.
15. Setelah kehancuran Atlantis, jalur pelayaran tertutup.
16. Gajah-gajah hidup di Atlantis.
17. Tidak mungkin terjadi proses-proses selain proses-proses fisik atau geologis yang menyebabkan kehancuran Atlantis.
18. Banyak mata air panas dan dingin, dengan kandungan endapan mineral, terdapat di Atlantis.
19. Atlantis terletak di dataran pantai berukuran 2000 X 3000 stadia, dikelilingi oleh pegunungan yang langsung berbatasan dengan laut.
20. Atlantis menguasai negara-negara lain pada zamannya.
21. Angin di Atlantis berhembus dari arah utara (hanya terjadi di belahan bumi utara)
22. Batuan Atlantis terdiri dari bermacam warna: hitam, putih, dan merah.
23. Banyak saluran-saluran irigasi dibuat di Atlantis.
24. Setiap 5 dan 6 tahun sekali, penduduk Atlantis berkurban banteng.
Mungkinkah Sundaland? Di Indonesia? Silakan pertimbangkan sendiri…
Saya lebih cenderung kepada pendapat yang menyatakan bahwa “the location of Atlantis was in Plato’s mind.”

3. Seminar Nasional tentang Atlantis yg diadakan oleh PT Ufuk Publishing House

Di gedung auditorium Museum Indonesia TMII, Jakarta, sebuah gedung yang asri
dengan batu dan tiang-tiang berukir nan megah, seminar Atlantis digelar PT Ufuk
Publishing House pada Sabtu 20 Februari 2010 tadi pagi-siang pukul 09.30-13.30.
Seminar dihadiri sekitar 100 orang dari berbagai kalangan yang meminati isu
Atlantis. Jadwal selesai mundur 1 ½ jam oleh serunya diskusi.
Sejak buku terjemahannya diterbitkan PT Ufuk akhir tahun lalu, buku tulisan
Prof. Arysio Santos (ahli fisika nuklir Brazil) laku keras di pasaran. Buku
kontroversial yang mengatakan bahwa benua Atlantis yang hilang itu ternyata
Indonesia tentu menimbulkan minat tersendiri bagi orang Indonesia. Berdasarkan
hal itulah maka PT Ufuk serius menggelar seminar ini mengundang para narasumber
yang berkaitan dengan bidang bahasan buku Atlantis.
Menganggap bahwa isu yang dilempar Prof. Santos ini penting untuk harga diri
bangsa (sebab Atlantis terkenal berkebudayaan tinggi) dan penting bagi ilmu
pengetahuan Indonesia, maka PT Ufuk mengundang Prof. Dr Jimly Assidiqie (mantan
ketua MK, dan anggota Watimpres) untuk memberikan pidato kunci. Sebelumnya,
seminar dibuka oleh Prof. Dr. Umar Anggara Jenie (Ketua LIPI) yang memberikan
pengantar tentang aspek ilmu pengetahuan isu Atlantis ini.
Prof. Umar Jenie bersikap netral dalam isu ini sebab beliau mengakui tak
mempunyai kapasitas untuk menilai pendapat Prof. Santos (Pak Umar adalah
seorang ahli farmasi). Tetapi Pak Umar mengutip Arthur Clarke bahwa kebenaran
itu tak harus selalu berdasarkan kebenaran pada saat kini, bisa juga didasarkan
atas imajinasi yang saat ini belum terbukti tetapi kelak mungkin saja terbukti.
Dan bila sebuah seminar internasional tentang Atlantis diperlukan diadakan,
LIPI akan mendukungnya. Buku Prof. Santos baik, dalam hal bisa merangsang
perdebatan sebab perdebatan merupakan jalannya ilmu pengetahuan.
Prof. Jimly, sebagai seorang ahli hukum juga tak bisa menilai pendapat Prof.
Santos ini, tetapi Pak Jimly mengatakan bahwa bila isu ini benar, maka buku
Atlantis ini sangat penting bagi masyarakat Indonesia, paling tidak bisa
membangun kembali harga dirinya di dunia internasional. Sebelum buku Atlantis
ini, ada buku kontroversial lain yang ditulis Stephen Oppenheimer ahli genetika
dari Inggris berjudul “Eden in the East” yaitu Sundaland sebagai tempat awal
peradaban manusia modern. Dua buku ini penting bagi identitas bangsa Indonesia,
begitu menurut Prof. Jimly.
Pembahasan teknis detail pendapat Prof. Santos dilakukan melalui disiplin ilmu
arkeologi (oleh Prof.Dr. Harry Truman Simanjuntak) dan geologi (oleh saya).
Setelah Prof. Truman dan saya presentasi, Radhar Panca Dahana melanjutkan acara
dengan berbicara tentang aspek budaya Indonesia masa lalu.
Presentasi Prof. Truman (Centre for Prehistoric and Austronesian Studies,
mantan Ketua Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia) berjudul “Atlantis –Indonesia ?”.
Sebagai seorang ilmuwan senior, Prof. Truman mengemukakan pertama kali
bagaimana sebuah karya ilmiah itu dibangun, bagaimana analisis sumber data itu
dilakukan, bagaimana kondisi datanya. Bila premis dibangun atas data yang tak
sahih (valid), maka premis salah, hipotesis salah, kesimpulan pun salah. Itulah
yang terjadi dengan buku Prof. Santos. Tak ada analisis data dilakukan. Prof.
Santos hanya menyambungkan fakta atau fiksi di sana-sini menjadi suatu
rangkaian cerita. Uji sumber data tak dilakukan, kesimpulan didasarkan bukan
atas data dan analisis yang valid. Banyak kerancuan dikemukakan dengan
pembahasan yang tidak sistematis. Selanjutnya, Prof. Truman membahas kebudayaan
tinggi Indonesia 11.600 tahun yang lalu versi Prof.Santos (saat penenggelaman
Atlantis Indonesia terjadi) dikontraskan
dengan penemuan-penemuan artefak di Indonesia yang berangka tahun sekitar
11.600 tahun. Pada masa ini, manusia Indonesia berada pada MMA (manusia modern
awal) pada tingkat kebudayaan latest paleolithic dan preneolithic. Kebudayaan
pada masa ini berdasarkan penemuan2 arkeologi dicirikan oleh berburu, meramu,
hunian gua dan teknologi lithik (batu). Dengan terjadinya deglasiasi pada masa
ini, manusia makin banyak tinggal di dalam gua dan mengembangkan kebudayaan gua
termasuk rock art, perkembangan konsepsi kepercayaan. Dengan kata lain, tak ada
tingkat kebudayaan yang maju seperti yang diceritakan Plato di dalam cerita
Atlantis. Karena tak ada bukti arkeologi sama sekali bahwa Indonesia telah
berkebudayaan maju sebelum 11.600 tahun yang lalu, maka Prof. Truman dengan
tegas menolak pendapat Prof. Santos.
Tentang bantahan geologi atas pendapat-pendapat Prof. Santos telah saya
kemukakan di dalam diskusi-diskusi di milis dari beberapa tahun yang lalu sejak
Prof. Santos mengeluarkan pendapatnya itu pada tahun 2005. Saya
mempresentasikan materi berjudul “Benua Atlantis yang Hilang itu Indonesia ? :
Antitesis-Antitesis Geologi”. Pada intinya, Prof. Santos menyamakan
penenggelaman Sundaland sebagai penenggelaman Atlantis. Hanya, mekanisme
penenggelaman itu bukan karena siklus deglasiasi, tetapi karena letusan
rangkaian gunungapi dari India sampai Jawa termasuk Toba dan Krakatau yang
terjadi pada 11.600 tahun yang lalu. Air laut naik sampai 130 meter pada saat
itu menenggelamkan seluruh Sundaland. Pendapat ini sama-sekali tak punya bukti
geologi dan ngawur secara kronologi. Toba terakhir meletus hebat sebagai sebuah
supervolcano pada 74.000 tahun yang lalu dan letusan pertama Krakatau terjadi
pada 416 M, itulah bukti-bukti geologi yang kita punya. Sundaland
memang pernah tenggelam akibat air laut naik secara signifikan, tetapi itu
terjadi pada 14.600-14.300 tahun yang lalu. Kenaikan selama 300 tahun itu
menaikkan air laut sampai 16 meter, atau 5,3 cm per tahun (Lihat
publikasi-publikasi terbaru dari Hanebuth et al., 2000, Rapid Flooding of the
Sunda Shelf: A Late-Glacial Sea-Level Record. Science. v. 288, no. 5468, pp.
1033-1035 dan Hanebuth et al., 2004, Depositional sequences on a late
Pleistocene–Holocene tropical siliciclastic shelf (Sunda Shelf, southeast
Asia). Journal of Asian earth Science. v. 23, pp. 113-126). Bagaimana Prof.
Santos bisa mengatakan bahwa airlaut naik sampai 130 meter hanya dalam satu
tahun ? Mekanisme letusan volkanik menyebabkan deglasiasi pun tak kita kenal
dalam geologi, justru volkanisme dalam banyak kasus menyebabkan winter
volcanic. Secara dimensi pun, tsunami sehebat apa pun tak akan menenggelamkan
Sundaland secara sekaligus. Tsunami Krakatau 1883 hanya menyebabkan
tsunami di sekitar pantai Lampung, Banten dan sedikit Jakarta. Itu saja.
Kemudian, Selat Sunda itu sudah terbentuk sejak Miosen Akhir saat Pulau Jawa
melakukan rotasi anti-clockwise dan Sumatra melakukan rotasi clockwise. Ini
telah ada bukti pengukuran paleomagnetikya (antara lain lihat publikasi Ngkoimi
et al., 2006 untuk Jawa, dan Ninkovich, 1976 untuk Sumatera). Akibatnya, Selat
Sunda membentuk celah segitiga menyempit ke timurlaut melebar ke baratdaya.
Retakan ini menyebabkan banyak sesar-sesar di sekitar Selat Sunda dan salah
satu perpotongan sesar itu diduduki Krakatau. Bukanlah Krakatau yang meretakkan
Selat Sunda pada 11.600 tahun yang lalu. Maka, saya pun tak bisa menerima
pendapat Prof. Santos bahwa Indonesia itu Atlantis, tak ada bukti2 geologi
ditemukan di bukunya, dan cara Prof. Santos menerangkan geologi di dalam
bukunya tidaklah nalar, paling tidak bukan mekanisme2 yang dikenal di dalam
main stream geological sciences.
Radhar Panca Dahana (sastrawan dan ahli sosiologi Universitas Indonesia)
berbicara di akhir sesi tentang kejayaan budaya Indonesia masa lalu terutama
dari segi maritimnya. Pelaut-pelaut Nusantara saat itu sudah menjelajah ke
India, Afrika, dsb.termasuk membawa kebudayaan-kebudayaannya, maka ditemukanlah
kebudayaan-kebudayaan yang mirip Nusantara di India, Madagaskar atau Afrika
Selatan. Pak Radhar tak membahas pendapat Prof. Santos, dari pembicaraannya tak
bisa disimpulkan apakah ia mendukung atau menolaknya. “I don’t care with
Santos”, kata Pak Radhar; yang jelas sejarah Indonesia itu bukan hanya
Kutei,Sriwijaya, Mataram, Majapahit, tetapi jauh sebelum itu. Bila masa sejarah
Indonesia dikenal mulai tahun 400 M, itu hanyalah karena pengaruh datangnya
orang-orang Aria dari India yang membawa kebudayaan kontinen; sebelumnya,
Nusantara telah mengunjungi India bahkan Afrika. Hanya pelaut-pelaut Nusantara
memang tak punya tradisi mencatat. Begitu
komentar Pak Radhar Panca Dahana yang tulisan-tulisan kritik sastranya bisa
kita temukan di koran-koran.
Pertanyaan-pertanyaan banyak diajukan oleh para peserta seminar, dimoderatori
oleh Pak Agus Samekto dari Universitas Indonesia baik teknis maupun nonteknis,
menyangkut arkeologi, geologi, filsafat, bahkan sampai spiritualisme. Para
peserta umumnya netral, tetapi ada juga yang mendukung Prof. Santos maupun
menolaknya. Yang menolaknya umumnya senang karena presentasi dari Prof. Truman
dan saya juga menolaknya. Yang mendukung juga senang karena ulasan Pak Radhar
seolah-olah mendukung Prof. Santos.
Apa pun itu, seminar oleh PT Ufuk Publishing dalam membedah buku-buku asing
yang kontroversial apalagi yang menyangkut Indonesia, patut diacungi jempol
sebab ini bagian dari usaha mencerdaskan masyarakat Indonesia. Buku-buku asing
yang menyangkut Indonesia harus dilihat dengan hati-hati, jangan agar
masyarakat menelannya mentah-mentah, lalu bangga dengan sesuatu yang secara
ilmiah lemah. Adalah tugas para penerbit dan ilmuwan mendidik masyarakatnya.
Demikian, pengamatan saya atas seminar yang menarik ini.Seusai seminar, hujan
deras mengguyur TMII, niat berburu buku-buku langka di ujung TMII batal. Di tol
Jagorawi di tengah hujan yang makin memutih karena semakin menderas :
Atlantis, prasejarah, geologi, bahari Nusantara berkelebatan silih berganti di
pikiran. Indonesia begitu menariknya bagi dunia ilmu pengetahuan apa pun,
semoga ilmuwan Indonesia makin berjaya dan berdaya di negerinya sendiri. Amin.

Salam,
Awang

2 responses

  1. neni

    say tidak percaya hipotesis AHS 100%

    26 Oktober 2011 pukul 9:41 am

  2. hhmmm……

    3 November 2011 pukul 12:23 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s